Bersama Bintang

Lintar hanya hidup bersama adiknya, yaitu Nova karena kedua orangtuanya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Lintar mempunyai sebuah gitar, dan dengan gitar itulah setiap hari Lintar mencari uang untuk makan. Tentunya untuk makan adiknya dan dirinya sendiri. Saat tidak lelah, Nova juga mengikuti Lintar mengamen.

Suatu hari, mereka tidak mendapatkan uang. Padahal Lintar dan Nova belum makan selama dua hari. Nova menjerit lapar, namun Lintar tak bisa berbuat banyak. Ia hanya berusaha menenangkan adiknya itu dan memintanya untuk bersabar.

Lintar berkumpul bersama anak pengamen lainnya. Dan mereka berbaur ke segala tempat.

Malam harinya, Lintar menyanyikan lagu Laskar Pelangi sambil memainkan gitarnya.

Mimpi adalah kunci

Untuk kita menaklukkan dunia

Berlarilah tanpa lelah

Sampai engkau meraihnya

Laskar pelangi

Takkan terikat waktu

Bebaskan mimpimu di angkasa

Warnai bintang di jiwa

Menarilah dan terus tertawa

Walau dunia tak seindah surga

Bersyukurlah pada yang kuasa

Cinta kita di dunia

Selamanya

Cinta kepada hidup

Memberikan senyuman abadi

Walau hidup kadang tak adil

Tapi cinta lengkapi kita

Laskar pelangi

Takkan terikat waktu

Jangan berhenti mewarnai

Jutaan mimpi di bumi

Menarilah dan terus tertawa

Walau dunia tak seindah surga

Bersyukurlah pada yang kuasa

Cinta kita di dunia

Selamanya

Selamanya

Laskar pelangi

Takkan terikat waktu

Seseorang yang berada dalam mobil mendengar dan melihat Lintar bernyanyi sambil memainkan alat musik gitar. Orang itu tersenyum, dan keluar dari dalam mobil. Setelah itu, ia menghampiri Lintar.

Kebetulan orang itu membutuhkan seorang pendamping penyanyi baru yang bernama Mario Stevano Aditya Haling, ia mengajak Lintar untuk mendampingi penyanyi itu, “Nama adik siapa?” tanyanya ramah.

“Nama saya Lintar…” jawab Lintar.

“Saya adalah manager seorang penyanyi baru yang bernama Mario Stevano Aditya Haling…” ternyata orang itu adalah manager seorang penyanyi baru, “Kata Mario, ia tidak mau sendirian menyanyi. Ia membutuhkan orang yang mendampinginya dalam bernyanyi. Katanya, kalau bisa orang itu pintar memainkan salah satu alat musik seperti adik…” manager penyanyi baru itu tersenyum ke arah Lintar.

“Ja… jadi…” kata Lintar gugup, “Apakah dengan cara itu saya mendapatkan uang?” Lintar bertanya.

“Setiap hari adik bisa mendapatkan uang.” manager penyanyi baru menjelaskan, “Maukah adik Lintar ikut dengan saya?”

“Ta… tapi… Adik saya bagaimana?” Lintar bingung.

“Ya, minta izin dulu sama adikmu.” kata manager penyanyi baru.

Lintar berlari dan mencari adiknya. Dan Lintar melihat adiknya sedang tertidur di depan sebuah toko beras.

Lintar menyanyikan lagu untuk Nova, adiknya…

“Senja kini berganti malam…

Menutup hari yang lelah

Dimanakah engkau berada

Aku tak tahu dimana

Telah kita lalui semua

Jerit tangis canda tawa

Kini hanya untaian kata

Hanya itulah yang aku punya

Tidurlah… selamat malam

Lupakan sajalah aku

Mimpilah dalam tidurmu

Bersama bintang

Sesungguhnya aku tak bisa

Jalani waktu tanpamu

Perpisahan bukanlah duka

Meski harus menyisakan luka

Tidurlah… selamat malam

Lupakan sajalah aku

Mimpilah dalam tidurmu

Bersama bintang

Tidurlah… selamat malam

Lupakan sajalah aku

Mimpilah dalam tidurmu

Bersama bintang

Lupakan diriku

Lupakan aku

Mimpilah dalam tidurmu

Bersama bintang”

itulah untuk terakhir kalinya Lintar bertemu dengan Nova, adiknya. Setelah itu, ia berlari ke tempat manager penyanyi baru berada.

“Kak, saya mau meminta izin kepada adik saya, tetapi adik saya sedang tidur. Dan saya hanya menyanyikan sebuah lagu untuknya.” ujar Lintar.

“Kalau begitu, Lintar naik ke mobil dan ikut kakak.” manager penyanyi baru tersenyum, menyuruh Lintar untuk masuk ke mobilnya.

Mobil melaju pelan membawa Lintar dan manager penyanyi baru di tengah sunyinya dan gelapnya malam.

Akhirnya, mobil berhenti. Dan di depan mobil, seorang anak berdiri. Dialah penyanyi baru itu.

“Kak, apakah kakak sudah menemukan orang yang tepat untuk mendampingiku dalam bernyanyi?” tanya penyanyi baru itu. Penyanyi baru itu adalah adik dari manager penyanyi baru.

“Ini, dek. Silakhan berkenalan dulu dengan anak ini.” manager penyanyi baru itu mempersilahkan, dan melangkah sedikit menjauh.

“Halo, namamu siapa?” tanya penyanyi baru itu yang biasa dipanggil Rio.

“Namaku Lintar.” Lintar tersenyum ke arah Rio.

“Apakah kamu diajak managerku yang juga kakakku untuk mendampingiku dalam bernyanyi?” Rio bertanya.

“I… iya.” jawab Lintar gugup.

“Apakah kamu juga bisa memainkan salah satu alat musik?” Rio bertanya lagi.

“Aku bisa memainkan alat musik gitar.” Lintar menunjukkan gitarnya.

“Coba kamu mainkan salah satu lagu yang kamu bisa dengan gitarmu.” pinta Rio.

Lintar melalukan apa yang di pinta oleh Rio. Ia memainkan sebuah lagu dengan gitarnya. Tak lupa sambil bernyanyi.

Ditengah sunyinya gelapnya malam yang menemaniku

Kurasakan rinduku padamu

Bintang-bintang malam tersenyum padaku, tertawa padaku, melihat sikapku rindukanmu Ingin ku berlari menembus sang waktu, untuk dapatkanmu, memeluk dirimu selalu

Sungguh ku tak bisa berpisah denganmu, walaupun sedetik, karena ku begitu mencintaimu

Cinta dalam hatiku hanyalah untuk dirimu

Takkan terganti dihatiku selamanya

Tak mungkin bisa ku hidup tanpa kasih sayangmu

Separuh jiwamu tlah dihatiku

Ingin ku berlari menembus sang waktu

Untuk dapatkanmu, memeluk dirimu selalu

Sungguh ku tak bisa hidup tanpamu, walaupun sedetik, karnaku begitu mencintaimu

Cinta dalam hatiku hanyalah untuk diriku

Takkan terganti dihatiku selamanya

Tak mungkin bisa ku hidup tanpa kasih sayangmu

Separuh jiwamu tlah dihatiku

Jangan lah pernah engkau tinggalkan diriku

Karna kau adalah nyawa hidupku

“Itu lagu ciptaan siapa? Aku belum pernah mendengarnya…” Rio bertanya.

Lintar menjawab, “Itu lagu ciptaanku sendiri, judulnya Nyawa Hidupku… Bagaimana? Bagus, kan?”

“Bagus… bagus banget malah…” Rio berdecak kagum.

“Hehehe…” Lintar hanya tertawa.

Rio meminta izin kepada Lintar agar lagu ciptaan Lintar ada di album perdananya. Tentunya Lintar juga ikut bernyanyi sambil memainkan alat musik karena Rio membutuhkan  pendamping dalam bernyanyi.

Mananger Rio mengajukan lagu Nyawa Hidupku ada di album perdana Rio bersama Lintar, pihak sebuah label rekaman pun menyetujuinya. Lagu “Nyawa Hidupku” dan lagu lainnya direkam.

Semakin lama, album Rio bersama Lintar laris di pasaran. “Nyawa Hidupku” yang menjadi single utama album mereka laris digunakan sebagai nada sambung telepon dua juta orang di negeri ini.

Rio dan Lintar akan tampil di sebuah acara untuk mempromosikan lagu “Nyawa Hidupku”.

**

Selama beberapa bulan, Nova tidak pernah bertemu lagi dengan Lintar, sang kakak yang biasanya selalu menemaninya saat tidak mengamen mencari uang untuk makan.

Nova berjalan tak tahu arah. Ia hanya mengikuti kemana langkah kakinya berjalan. Di dalam hatinya Nova berharap agar ia bertemu kembali dengan sang kakak tercinta.

Ia melihat di balai desa orang-orang beramai-ramai menonton televisi. Nova juga penasaran mengapa setiap minggunya orang beramai-ramai menonton televisi di balai desa, ia berusaha menyelip di antara banyaknya warga desa yang menonton.

“Nah, inilah penyanyi baru di tanah air kita. Kita sambut… Rio dan Lintar!” seru pembawa acara yang ada di televisi.

Rio dan Lintar muncul di televisi, membawakan lagu “Nyawa Hidupku”.

“Kak Lintar?” Nova menatap tidak percaya kakaknya, Lintar ada di televisi.

Lintar:

Ditengah sunyinya gelapnya malam yang menemaniku

Kurasakan rinduku padamu

Rio:

Bintang-bintang malam tersenyum padaku, tertawa padaku, melihat sikapku rindukanmu

ingin ku berlari menembus sang waktu, untuk dapatkanmu, memeluk dirimu selalu

Lintar:

Sungguh ku tak bisa berpisah denganmu, walaupun sedetik, karena ku begitu mencintaimu

Rio dan Lintar:

Cinta dalam hatiku hanyalah untuk dirimu

Takkan terganti dihatiku selamanya

Tak mungkin bisa ku hidup tanpa kasih sayangmu

Separuh jiwamu tlah dihatiku

Lintar dan Rio:

Ingin ku berlari menembus sang waktu

Untuk dapatkanmu, memeluk dirimu selalu

Sungguh ku tak bisa hidup tanpamu, walaupun sedetik, karnaku begitu mencintaimu

Cinta dalam hatiku hanyalah untuk diriku

Takkan terganti dihatiku selamanya

Tak mungkin bisa ku hidup tanpa kasih sayangmu

Separuh jiwamu tlah dihatiku

Jangan lah pernah engkau tinggalkan diriku

Karna kau adalah nyawa hidupku

“Ja… jadi selama ini Kak Lintar tidak ada karena ia berusaha untuk menjadi penyanyi terkenal?” airmata Nova mulai mengalir.

“Rio, bagaimana perjalanan karirmu sampai sekarang ini Rio berada di sini?” presenter acara itu bertanya kepada Rio.

“Dulu saya hanya ikut kakak ke tempat kerjanya di sebuah perusahaan rekaman. Terus, di sana saya disuruh bernyanyi dan akhirnya teman-teman kakak saya menyarankan saya agar membuat beberapa album. Akhirnya, saya menyetujuinya. Tetapi saya tidak mau bernyanyi sendirian. Karena itulah, saya meminta bantuan kepada kakak untuk mencari orang yang mau mendampingi saya dalam bernyanyi. Akhirnya, kakak saya mempertemukan saya dan Lintar ini sampai sekarang akhirnya kami selalu bersama.” jawab Rio sambil memegang pundak Lintar.

“Kalau Lintar, bagaimana ceritanya kamu bersama Rio membuat sebuah album?” presenter bertanya kepada Lintar.

“Begini…” kata Lintar sambil memetik gitarnya, “Di malam hari, di tengah jalan saya menyanyikan lagu Laskar Pelangi sambil memainkan alat musik gitar ini. Terus, ada seorang anak muda yang menghampiri saya, ternyata anak muda itu adalah manager sekaligus kakak kandung seorang penyanyi baru ini, ya… orang yang ada di samping saya saat ini… Saya diajak olehnya. Tetapi, sebelumnya saya menghampiri adik tercinta yang bernama Nova dahulu untuk meminta izin. Tetapi Nova tertidur, dan saya hanya menyanyikan sebuah lagu untuknya di saat dia tidur, saya kembali ke kakak dia dan akhirnya kakaknya mempertemukan saya dengannya…” Lintar menunjuk ke arah Rio.
”Ternyata saat aku terlelap, saat terakhir kakak bertemu denganku kakak menyanyikan sebuah lagu untukku…” air mata yang keluar dari mata Nova semakin deras.

“Kalau adikmu menonton, pesan apa yang akan kamu sampaikan untuknya?” terakhir kalinya presenter itu bertanya.

“Adik saya tercinta tidak mungkin menonton saya disini. Karena kami tidak mempunyai rumah dan kedua orangtua sudah meninggal.” terlihat kesedihan di wajah Lintar saat menjawab pertanyaan presenter, “Tetapi saya hanya ingin menyanyikan sebuah lagu untuknya…

‘Selama aku masih bisa bernafas

Masih sanggup berjalan

Ku kan slalu memujamu

Meski ku tak tahu lagi

Engkau ada di mana

Dengarkan aku… ku merindukanmu’

“Kak Lintar, aku disini menonton kakak… Tetaplah tersenyum walaupun kakak sedang sedih…” Nova berbicara. Meskipun Nova tahu apa yang ia katakan tidak di dengar oleh Lintar, kakaknya, tetapi ia yakin Lintar mendengarnya melalui telepati hati, saling berbicara melalui hati, dari hati ke hati.

Beberapa tahun kemudian, Lintar bersama Rio menghampiri Nova. Nova tersenyum dan berlari memeluk kakaknya itu. Rio terharu dan tersenyum melihat kakak dan adik yang berpelukan. Ia ingin mempunyai adik seperti Nova, dan ingin menjadi kakak seperti Lintar.

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Rindukan Dirimu

MARIO STEVANO ADITYA HALING, seorang penyanyi yang saat ini tengah berada diambang popularitas. Dengan umur yang relatif muda, ia telah berulang kali meluncurkan album yang laris terjual di pasaran. Bahkan hampir setiap hari, ia selalu dibanjiri berbagai job manggung di sana-sini. Tak heran jika ia berhasil menyandang status sebagai penyanyi papan atas yang dielu-elukan oleh banyak orang.

Namun, bagaimana jika ternyata sang bintang sama sekali tidak menikmati hidupnya yang nyaris sempurna itu?

Terkadang ia merasa jenuh pada kehidupannya saat ini. Ia terlalu lelah harus menghabiskan sebagian waktunya hanya untuk bekerja, bekerja, dan bekerja. Ia juga terlalu lelah berdiam diri di rumah jika tidak ada job. Terlebih lagi, ketika ia harus diiringi bodyguard tiap jalan-jalan ke tempat umum. Sungguh bukan itu yang selama ini ia harapkan. Jauh dalam hati kecilnya, ia ingin kembali ke masa sebelum ia menjadi seorang bintang. Masa dimana ia bisa hidup bebas tanpa merasa terkekang seperti ini.

Rio mengendarai Jaguar hitamnya, menyusuri jalanan di setiap sudut kota. Tiap hari santai dimana tidak ada jadwal manggung, ia selalu menyempatkan diri keliling kota dengan mobil kesayangannya tersebut. Ya, hitung-hitung untuk sedikit menyegarkan pikiran. Meski ia hanya dapat disuguhi pemandangan kota yang dipenuhi asap polusi, tapi setidaknya ia merasa sedikit lega karena tidak terus-terusan terkurung di dalam rumah.

Ia menghentikan laju mobilnya ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Sambil menunggu lampu hijau menyala, ia pun menyapu pandangan ke sekitar. Lelaki itu mendesis lemah saat melihat spanduk besar bergambar wajahnya─ terpampang di ujung jalan. Di spanduk itu tertera tanggal manggung Rio berikutnya. Entah mengapa, ia merasa kesal sendiri jika harus melihat pengumuman itu. Bahkan pernah terbesit sebuah pikiran di benaknya, untuk membatalkan job manggung tersebut.

Lelaki itu pun berusaha mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Hingga kemudian, kedua matanya terpusat pada sesosok gadis berpayung yang tengah berdiri di pinggir jalan. Payung? Rio menautkan kedua alisnya dan mendongak ke arah langit. Langit sangat cerah. Bahkan setitik awan hitam sama sekali tak menampakkan diri.

“Ck, gadis yang aneh,” batin Rio seraya tersenyum geli.

Diiiin… Suara klakson yang berasal dari mobil di belakangnya, membuat Rio terlonjak kaget. Setelah sadar bahwa lampu hijau telah menyala, ia pun segera bersiap menginjak gas. Namun baru saja ia hendak menjalankan laju mobil, tiba-tiba gadis berpayung itu berlari di depan mobilnya. Spontan, ia pun langsung mengerem mobilnya, “Shit!” umpatnya kesal. “Apa-apaan sih dia?”

Dan begitulah. Gara-gara ulah gadis berpayung itu, mood Rio mendadak jadi jelek. Bagaimana tidak? Kalau saja tadi dia tidak ngerem mendadak, bisa-bisa dia sudah berada di penjara saat ini. Seorang Rio masuk penjara dengan tuduhan menabrak orang? Oh, tentu saja bukan itu yang ia harapkan masuk menjadi berita utama. Alhasil, lelaki itu pun memutuskan untuk langsung pulang ke rumah saja.

Setibanya di rumah, betapa terkejutnya ia ketika melihat gadis berpayung yang ditemuinya tadi, sedang berdiri di depan rumahnya.

Rio heran. Ia terus memperhatikan gadis itu dari dalam mobil. Hingga tiba-tiba gadis itu menyadari kehadiran Rio, dan menoleh ke arahnya. Raut terkejut terpeta jelas dalam wajah si gadis. Gadis itu langsung berbalik dan beranjak pergi dari tempatnya berdiri semula.

“Hei, tunggu!” Entah mengapa tiba-tiba Rio refleks berteriak. Tanpa pikir panjang, Rio pun turun dari mobil dan secepat kilat mengikuti langkah gadis berpayung tersebut. Ia tidak mungkin menggunakan mobil, karena gadis yang sedang dikejarnya itu mengambil jalan sempit yang tidak mungkin dilalui mobil.

Rio menghentikan langkahnya, ketika menyadari gadis itu telah masuk ke dalam sebuah rumah. Rio terdiam. Ia masih ragu untuk masuk ke dalam rumah itu atau tidak. Mengingat jika ia sama sekali tidak mengenal gadis itu. Bisa-bisa ia dituduh hendak mencuri. Hei! Mengapa dari tadi pikiranku berbau kriminal melulu, batin Rio dalam hati.

“Aneh. Kenapa juga aku harus ngikutin dia?” tanyanya pelan. Ia pun menghela nafas berat dan memutuskan untuk berbalik. Namun suara pintu berdecit yang berasal dari rumah tersebut, membuat Rio mengurungkan niatnya.

Seorang wanita paruh baya berdiri di ambang pintu dengan garis muka terkejut. “Rio? Kamu Rio, kan?”

Rio mengangguk pelan seraya menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Dalam hati ia merutuk nasibnya. Ia lupa memakai penyamaran topi dan kaca matanya ketika harus berada di tempat umum seperti ini. “Maaf, saya tadi kebetulan lewat.” Rio terdiam sejenak. Ia terlihat menimang-nimang sesuatu, “Uhm, barusan saya lihat putri ibu masuk. Boleh saya bertemu?”

Wanita itu tampak sangat terkejut. Lebih terkejut dari reaksinya ketika melihat Rio tadi. Guratan tidak percaya menyembul di air muka wanita tersebut. Namun sedetik kemudian, ia pun mengangguk dan memperbolehkan Rio masuk. Wanita itu kemudian mengantar Rio menuju sebuah ruangan.

Rio memperhatikan isi ruangan itu. Ruangan yang gelap namun tampak tertata rapi. “Ini kamarnya.” Wanita tersebut menjelaskan seraya menyibak tirai. Sinar mentari pun tak segan-segan memberikan sinar hangat untuk kamar tersebut.

Rio terkesiap ketika pandangannya bersirobok dengan sebuah lemari kaca di sudut ruangan. Lemari itu penuh dengan berbagai bingkai foto yang berisi foto dirinya. Ia pun mengambil salah satu foto dari lemari tersebut. Foto itu memperlihatkan seorang gadis yang tengah borpose seraya memamerkan sebuah kaset album pertama Rio.

“Namanya Keke. Sejak melihatmu pertama kali di layar TV, dia begitu mengidolakanmu.” wanita itu mulai bercerita dengan tatapan sendu. Bahkan ada kegetiran dalam nada suaranya.

Rio memandang lagi foto yang sedang dipegangnya. Tiba-tiba ia menyadari sesuatu yang janggal. Ia bingung mengapa wanita itu tidak langsung mempertemukannya dengan gadis itu, tapi malah justru bercerita bahwa gadis itu adalah penggemar beratnya. Ingin ia menanyakan perihal yang membuatnya tidak mengerti. Namun ia segan.

“Keke gadis yang sangat keras kepala. Demi ingin bertemu denganmu, dia bahkan nekat kabur hanya untuk menonton konsermu. Padahal saat itu, kami sudah berusaha mencegahnya. Fisiknya sangat lemah. Tapi ia bersikeras untuk tetap menonton konsermu.” Bulir-bulir air mulai berkumpul di pelupuk mata wanita anggun tersebut.

Rio memilih bertahan dalam kediamannya. Selebihnya karena ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia sendiri sama sekali tidak dapat mencerna topik pembicaraan wanita di hadapannya.

“Saat itu, kami lalai menjaganya. Kami nggak sadar kalau dia kabur dari rumah sakit untuk menonton konsermu. Hingga beberapa saat kemudian, kami mendapat kabar… bahwa dia… dia…” Wanita itu menutup mulut. Isakan kecil mulai terdengar dari bibir merahnya. Air mata yang sedari tadi terlihat dibendungnya, mulai jatuh satu persatu.

Rio berusaha mendekati wanita itu─berniat untuk menenangkannya. Meskipun ia masih belum mengerti arah pembicaraan ini. Namun, tangannya mendadak beku ketika wanita tersebut melanjutkan ucapannya. Sebuah pernyataan yang begitu menghujam jantungnya. Dan membuatnya mengerti tentang semua yang terjadi.

“…Dia kecelakaan, dan meninggal.”

Gerimis itu mulai menderas. Menapak tanah basah dibawahnya. Disinilah, Rio. Terduduk termenung dengan perasaan campur aduk. Tak ia hiraukan rintik hujan yang membasahi tubuhnya. Kedua matanya terus terpaku pada sebuah pusara─tempat Keke beristirahat untuk selamanya. Otaknya terus memberontak. ‘Jadi yang tadi kulihat itu apa…?’

Semua cerita wanita itu terus berdengung di telinganya. Saat itu hujan turun dengan lebat. Mungkin karena gadis itu tidak ingin terlambat untuk menonton konser tunggal Rio, ia tergesa-gesa menyeberang jalan ketika lampu hijau sudah menyala. Dan hasilnya naas. Sebuah mobil menabraknya. Gadis itu terpental beberapa meter─membentur trotoar. Gadis itu pun meninggal seketika di tempat itu juga.

Rio mengingat pertama kali ia melihat gadis itu di jalan. Jalan itu adalah jalan dimana gadis tersebut kecelakaan. Ia sempat menyesal telah mengumpat gadis itu saat menyeberang di lampu hijau. Ia juga menyesal telah menyebut gadis berpayung itu aneh. Sekarang ia mengerti mengapa gadis itu memakai payung.

“Hari ini tepat satu tahun sejak kepergiannya. Mungkin dia menampakkan diri supaya kamu bisa menyadari keberadaannya.”

Kata-kata dari Ibunda Keke terngiang lagi di telinga Rio. Ia begitu tidak menyangka bahwa diluar sana ada seseorang yang rela mempertaruhkan apa saja demi menontonnya. Padahal saat itu jelas-jelas Keke sedang dalam keadaan sakit. Namun gadis itu tetap bersikeras menonton konsernya. Jika mengingat sikapnya yang acuh pada hal-hal yang menyangkut populer, ia merasa begitu tertohok.

“Maaf… Maaf… Maaf…”

Hanya itulah kata yang keluar dari bibir Rio. Selanjutnya, ia hanya dapat terisak. Membiarkan air matanya meleleh turun.

“Rio berterima kasih banget, buat semua RISE yang udah nyempetin datang kesini. Satu lagu persembahan dari Rio. Spesial Rio tujukan untuk semua RISE yang telah mendukung Rio hingga Rio menjadi seperti ini.” Rio menatap ratusan orang yang hadir di hadapannya. Senyum lembut tersungging di ujung bibirnya, “Rio sayang kalian semua.”

Rio pun mulai memetik gitar. Mengumandangkan sebuah lagu yang ia ciptakan khusus untuk seluruh penggemarnya. Sebuah lagu berisi rasa rindu pada RISE atas ketidak peduliannya selama ini. Terutama Keke, seorang RISE yang telah menginspirasi hidupnya menjadi lebih baik.

Berjanjilah wahai RISE semua,
Bila kau tinggalkan aku, tetaplah tersenyum.
Meski hati sedih dan menangis.
Kuingin kau tetap tabah menghadapinya.
Bila kau harus pergi meninggalkan diriku,
Jangan lupakan aku.
Semoga dirimu disana kan baik-baik saja.
Untuk selamanya…
Disini aku kan selalu rindukan dirimu.
Wahai RISE semua…
Rindukan Dirimu…

Tiba-tiba secara samar kedua mata bening Rio menangkap seorang gadis berambut sebahu yang menontonnya di barisan paling belakang. Gadis itu tampat sangat bahagia. Senyum manis tak henti-hentinya merekah di sudut bibirnya.

Rio sempat tertegun menatap gadis itu. Entah hanya semacam delusi atau apa, namun ia merasa bayangan itu sangat terlihat nyata. Ia pun turut tersenyum. Senyum tulus yang ditujukannya pada gadis itu.

‘Terima kasih, Keke…’

Berkat Keke-lah saat ini ia sadar akan arti seorang penggemar. Mulai sekarang, ia juga akan bertekad satu hal. Bahwa ia akan melakukan apa saja demi penggemarnya. Ia tidak akan menuntut dan keluar dari dunia musik. Ia juga tidak akan mengeluh untuk manggung disana-sini. Ia akan belajar untuk menjadi seorang bintang yang bersinar terang di hati semua orang.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Luka Disini

11 januari, yah itulah tanggal yang tak perna akan aku lupakan. dimana pertama kali aku bertemu denganmu. tanggal itupun selalu terukir indah dalam relung hatiku. saat aku dan dia masih polos tanpa dosa kita di pertemukan oleh Tuhan tanpa sengaja ditempat ini. tempat yang menurut orang tak layak tapi bagi aku dan kamu inilah istana kita. dan tahunpun silih berganti kini kita telah sama-sama beranjak dewasa meninggalkan masa anak-anak kita. tapi aku tak akan perna melupakan atau meninggalkan masa 11 januari kita.

Dan 11 januari terulang lagi, tapi aku sendiri tak ada dirimu yang menemaniku. walau hanya sekedar bercanda,tertawa bersama menghabiskan hari istimewa kita. hatiku tak sengaja bertanya apakah janji kita telah kau lupakan? 11 januari kita saat bertemu denganmu menjalani kisah ini. naluriku berkata kaulah milikku, selalu bahagia bersama. akulah penjagamu, akulah pelindungmu akulah pendampingmu disetiap langkah-langkahmu. semua itu janjimu yang kau ucapkan saat kita merayakan setahun 11 januari kita. kini kau telah berubah, jangankan bersamaku mengingat 11 januari kita saja sudah tak perna. tak pentingkah diriku dimatamu?. dia yang baru setahun mengenalmu kini telah menggantikan aku yang sudah 9 tahun bersamamu. sakit yang kurasakan, kau memberiku janji manis, mengajakku terbang ke langit ke tujuh dengan semua kata-kata manismu. tapi dengan kasarnya menghempaskanku begitu saja tanpa merasa bersalah sedikitpun.

Cinta yang lain? apakah ini cinta yang aku rasakan?! tapi cinta ini hanya milikku. cintamu pergi,hilang,terbang entah kemana. aku menangis meremas kedua kakiku memikul beban batin selama setahun ini. tolong lihat aku sedikit saja, apa aku harus mengemis cinta kepadamu? Tidak!!!! aku lebih baik mati dari pada aku harus mengemis cinta. Ku pejamkan mataku mencoba melupakan kenangan saat bersamamu tapi aku tak bisa, kau telah meracuni semua yang ada dalam diriku ini.

***

Hari ini aku memulai aktivitasku, dengan tak begitu bersemangat mengingat apa yang terjadi semalam tapi aku tak ingin mengecewakan kedua orang tuaku dengan meninggalkan kewajibanku sebagai anak sekolah. kulangkahkan kakiku memasuki halaman sekolah, dengan mata yang sedikit bengkak aku mencari sahabatku. tapi baru beberapa langkah aku mendengar suara sahabatku shilla sudah teriak memanggil namaku mengalahkan toa mesjid. aku menatapnya dengan mimik muka bingung, kenapa shilla seperti orang kesurupan pagi ini.

“fy, yang sabar yah” itulah kata-kata shilla yang membuatku bingung…
Perasaanku mulai gak enak, tapi aku mencoba tersenyum menyembunyikan keresahanku.

“ada apa shill?, masih pagi sudah tereak. malah sekarang ngomong aneh kayak gitu. emang aku kenapa? tanyaku dengan wajah senang di buat-buat”.

“sini, shilla menarik tanganku menuju mading sekolah. fy,,, kalo kamu sudah lihat tolong jangan nangis. Yang sabar fy, aku gak akan perna ninggalin kamu. aku akan selalu ada untukmu fy”. kali ini ucapan shilla mulai ngaco menurutku. tapi aku tak mengerti juga dengan ucapannya sampai aku melihat apa yang ada di mading skolah kami.

Aku terdiam lidahku kurasakan beku, mulutku tak bisa mengeluarkan satu katapun. hatiku menangis melihat beberapa lembar foto pangeran kecilku bersama gadis lain. hancur hatiku, runtuh pertahanan yang selama ini aku bangun kokoh. sakit banget aku tak sanggup melihat semua ini. ku peluk shilla sangat erat, yang aku butuhkan sekarang adalah kekuatan dari sahabatku shilla. Aku gak akan nangis shill, kataku berbohong. tapi aku tahu shilla tahu apa yang aku ucapkan berbeda dengan yang aku rasakan. mana mungkin aku tak akan menangis sedangkan air mataku sudah membasahi seragam shilla. aku tak akan ninggalin kamu fy ucap shilla ditelingaku. ku peluk shilla semakin erat, aku tak sanggup shill ujarku sambil menangis.

***

Sepanjang pelajaran tak satupun yang masuk dalam otakku. bahkan aku yang terkenal siswi yang sangat pandai tak bisa menjawab pertanyaan bu ucie. semua teman-temanku tak percaya itu. aku hanya tersenyum miris melihat keadaanku sendiri. saat ini yang aku butuhkan hanyalah segera pulang. tapi semua itu tak akan terjadi karna masih ada 3 pelajaran lagi menantiku. beruntungnya aku saat terdengar bel istirahat, sekarang aku bisa memulihkan otakku dari semua masalah yang ada. shilla mengajakku ke kantin tapi ku tolak, aku tak sanggup melihat dia disana. tapi shilla memberiku kekuatan dengan kata-kata yang memang pantas untukku. Fy,, sampai kapanpun usahamu ngehindarin mereka tak akan perna menyelesaikan semuanya, yang ada lu malah sakit. aku setuju dengan semua ucapan shilla. tapi sekuat apapun usahaku untuk tegar percuma saja saat melihat mereka di kantin merayakan hari jadian mereka membuat hatiku sakit.

“fy,, aku kaget melihat orang yang tak ingin aku temui berdiri di depanku. kok ngelamun?

“gak papa”, jawabku..

Gabung sama kita aja yah fy shill, sekalian aku traktir kalian hari ini. gak usah io aku masih mampu membeli makananku sendiri! ucapku sinis. ku lihat ekspresi rio tak percaya dengan ucapanku. lagian aku gak mau ganggu acara kalian ujarku sambil melihat rio dan agni bergantian. gak papa kali fy, iya kan io tanya agni meminta persetujuan pacar barunya. tolong yah gak usah sok baik kalau akhirnya hanya bisa nyakitin aja, ujarku sambil memandang sinis ke arah rio. dan juga aku maupun shilla gak mau jadi obat nyamuk disini. sambil menarik tangan shilla aku pergi meninggalkan mereka berdua.

Setelah mendapat tempat yang lumayan jauh dari mereka, shilla pergi memesan makanan untuk dia dan juga untukku. tapi setelah makanan itu datang tak sedikitpun ku sentuh makanan itu. pikiranku terbang entah kemana, aku hanya menangis dan menangis. sesekali aku melihat mereka yang lagi bermesraan. air mataku mulai turun lagi, tanpa sengaja ku lihat kak iel ketua kesenian membawa gitar. aku meminjamnya, aku ingin bernyanyi mungkin dengan aku bernyanyi semua rasa sakit ini pergi bersama alunan nada-nada yang aku mainkan.

Ku hembuskan nafasku, sebelum bernyanyi aku berdoa semoga sakit ini sedikit bisa hilang pergi bersama nyanyianku. aku mulai bernyanyi aku menatap ke arah rio ku lihat dia juga sedang melihatku, mungkin lu tau lagu ini io batinku.

-Hatiku bahagia
saat didekatmu
jiwaku melayang
bersama dirimu
Aku ingin dirimu
Mengapa kau jauh
aku merindumu
tak dapat ku hidup
tanpa senyumanmu
sayang, ku mencintaimu
Hooo.. Cintaku milikmu
Sayang, untuk selamanya
Kasih.. Indahnya hidupku
Hanya engkaulah cintaku-

Lagi lagi mata ini menangis, tapi tak hanya ku yang menangis. ku lihat juga shilla menangis, aku tersenyum melihat betapa beruntungnya aku memiliki sahabat seperti shilla. yang tak perna meninggalkanku sedikitpun, saat aku terpuruk seperti ini. bahkan shilla menolak ajakan alvin pacarnya untuk makan siang bersama, shilla memiih bersamaku, menamaniku. tak hanya shilla yang menangis tapi ada beberapa murid yang lain juga ikutan menangis. apakah mereka sama sepertiku, atau hanya mengasihaniku saja. kini kulihat rio menatapku dengan tatapan yang sulit ku artikan apakah dia ingat dengan lagu ini atau hanya pura-pura sok peduli padaku.

***
FB on

“fy, jika suatu saat nanti ada yang nyakitin kamu,dan kamu gak bisa untuk ngebalasnya apa yang akan kamu lakuin?”..

“maksud kamu io, klo ada yang memukuliku gitu?”.

“bukan gitu fy, maksudku gini jika orang yang kamu sayangi tak sengaja ataupun sengaja nyakitin kamu apa yang akan kamu lakuin?”.

“aku tersenyum mendengar pertanyaan rio. aku tak akan menyakiti orang itu, karena dengan aku menyakitinya berarti aku sama saja dengan dia yang suka nyakitin orang. dan jikapun ada yang menyakitiku aku akan bernyanyi di depannya lagu love ½ mati. itu lagu untuk orang yang jika menyakitiku nanti. jawabku sambil mengacak-ngacak rambut rio pangeran kecilku”.

FB off

Deggggg,,, perasaan ini kenapa terasa aneh, ada apa denganku, dan kenapa ify harus menyanyikan lagu itu? apakah ada orang yang menyakitinya? tapi siapa dan selama ini ify tak perna bilang kalo dia menyukai seorang cowok. apakah aku yang telah menyakiti ify… “semua pertanyaan itu berputar di otakku, maaf fy jika aku adalah orang yang telah menyakitimu, tolong jangan perna menangis untuk orang sepertiku.

“rio,,io kamu kenapa? kok liatin ify segitunya”.

“hah! Maaf ag, aku gak nyangka aja ify nyanyiin lagu itu”.

“ngapain sih kamu ngurusin dia, kamu kan lagi sama aku, dan aku gak suka kalo kamu mikirin cewek lain sekalipun itu ify”.

“tapi ag, ify kan sahabat aku. masa aku ngebiarin dia lagi ada masalah gitu”.

“io,, ify memang sahabatmu tapi aku sekarang adalah pacarmu. ingat itu io”.

Maaf fy, sekali lagi maaf aku gak bisa bersamamu dan aku juga gak bisa menghapus air matamu. aku juga gak mau nyakitin agni yang kini telah menjadi pacarku jika aku terus mengingatmuatau bersamamu sekarang. kamu tetap sahabat terbaik ku fy untuk selamanya.

Fy, aku senang banget kamu terlihat seperti ini. karna aku ingin apa yang aku rasakan dulu bisa berbalik kepadamu. gimana sakitnya disakiti sama orang yang kita sayangi, aku pun seperti itu fy. saat cakka lebih memilihmu ketimbang aku, bahkan cakka melupakan semua kenangan aku dan dia itu hanya karna kamu. yang lebih menyakitkan lagi cakka pergi untuk selamanya saat menolong kamu yang hampir tertabrak mobil. dan itu yang tak bisa aku terima, kamulah yang membuat cakka pergi meninggalkanku.

“ag, kok ngelamun?”.

“gak papa io, aku hanya ngerasa ada yang lain gitu sama ify dan dia kenapa yah io?” tanyaku pura-pura sok peduli.

“io, kita ke tempat ify yuk. Mungkin ify butuh sahabatnya yaitu kamu”.

“tapi ag, tadi kan kamu yang ngelarang aku deket sama ify, kenapa sekarng malah menyuruhku deket sama ify”.

“yah sudahlah io, aku kan pengen tau ify itu kenapa”.

***

“fy, kamu kenapa? ada yang nyakitin kamu fy?”.

“tolong gak usah sok peduli gitu io, toh kalo pun kamu tahu siapa orang itu kamu pun gak bisa berbuat apa-apa, jadi percuma saja. lagian aku juga gak mau ngerepotin pacar orang”!!

“fy, kita ini sahabat, kamu lupa itu? jawab fy, kenapa kamu diam gitu. kamu pikir aku tenang ngeliat kamu seperti ini. fy, kamu lupa sama semua janji kita akan selalu berbagi, selalu bersama senang maupun susah”.

“sstttt,, gak usah di teruskan io, aku yang harusnya tanya itu. selama setahun ini kamu kemana. bahkan hari special kita yang dari kecil selalu kita rayain kamu gak ingat itu io. apa kenangan kita itu tak ada artinya buat kamu? apa 9 tahun kita bersama itu hanya kenangan buatmu io? kamu kemana? tak ada lagi rio yang dulu, rio yang perhatian, rio yang melindungiku, rio yang akan selalu ada untuk peri kecilnya, mana semua janji-janji itu io? kamu yang berubah io, tapi aku tak akan perna menyalahkan kamu untuk semuanya. karna aku tahu sahabat tak ada artinya di banding cinta untukmu”, cerca ify sambil menarik shilla pergi meninggalkan rio dan agni.

6 bulan kemudian

Ify semakin terpuruk dengan perasaan cintanya, nilai-nilainya kini menurun drastis. bahkan murid yang terkenal sangat pintar kini menjadi olok-olokan murid lain. dan agni berada di atas angin, mendapati pacar seorang ketua osis, bahkan kini menjadi kapten basket putri. berbeda dengan ify ketua cheers yang di sandangnya kini telah tergantikan dengan cewek kecentilan dea saingan terberatnya. tapi itu tak membuat ify kehilangan satu sahabat terbaiknya shilla. yah, shilla juga lah yang selalu mensuport ify agar bisa bangkit kembali. merebut semua yang memang pantas menjadi miliknya. karna kesetian shilla selama menjaga ify membuat ify sedikit demi sedikit bisa melupakan semua masalahnya. bahkan ify sudah bisa tersenyum walaupun hanya shilla yang bisa melihat itu. bahkan tanpa di sangka-sangka ify sudah bisa memperbaiki nilai-nilainya yang sangat tak pantas di dapatkan murid seperti dirinya. semua itu sangat membuat shilla bahagia tapi tidak untuk agni dan dea.

Kali ini rio tak konsen memimpin rapat osis, pikirannya selalu saja ke ify. sudah beberapa bulan ini tak ada lagi komunikasi diantara mereka. mengingat kondisi ify rio tak mau menambah beban ify jika harus ketemu ify. kini rio menghentikan rapat, toh percuma saja jika diteruskan kalo pikiranya kacau seperti ini tak ada satupun yang bisa di bahas.

“Aku kangen banget ma kamu fy, seandainya bisa memutar waktu aku tak ingin seperti ini. aku juga sakit fy, kamu yan selalu ceria kini menjadi seperti itu hanya karena aku. seandainya aku tak bertemu agni mungkin semua ini gak akan terjadi. maaf fy, aku tak bisa bersamamu. aku juga hancur fy, sakit, terluka dengan sikapku selama ini ke kamu. aku kangen kamu fy, untuk orang yang tak mungkin aku lupain” rio berbicara dengan foto ify yang dia sembunyikan di belakang foto agni dalam dompetnya.

“fy,,kalo saja perasaanmu aku tahu duluan sama seperti perasaanku ke kamu mungkin aku tak akan bersama agni. selama ini aku terlalu pengecut mengungkapkan semua perasaanku yang aku rasakan ke kamu bukan hanya sekedar sahabat saja. tapi aku takut fy, jika aku ungkapkan aku takut persahabatan kita menjadi hancur. tapi aku salah ternyata persahabat kita hancur karena hubunganku dengan agni”.

“ku mencintaimu lebih dari apapun, meskipun tiada satu orangpun yang tahu. ku mencintaimu sedalam-dalam hatiku. Ku tahu ku takkan selalu ada untukmu, di saat engkau merindukan aku, ku tahu tak akan bisa memberikanmu waktu yang panjang dalam hidupku. yakinlah bahwa engkaulah selalu ada dalam hidupku, dan hanya padamu ku berikan cintaku yang panjang dalam hidupku”.

Rio menghentikan nyanyiannya, mengingat kalo hari ini dia sudah berjanji pulang bareng bersama agni. tapi sayang kata teman-teman agni kalo agni sudah dari tadi pulang bersama debo. sedikit cemburu itulah yang rio rasakan mengetahui pacarnya pulang dengan laki-laki lain padahal mereka sudah janjian akan pulang bersama

Di tempat lain ify sedang menunggu jemputannya. hetset terpasang di telinganya, ify sedang asik mendengar alunan indah suara pasha ungu menyanyikan lagu yang bisa saja menggambarkan kisah cintanya. seseorang menepuk pundaknya, betapa kaget ify mengetahui siapa yang kini berdiri di depannya. jantung ify berdetak tak karuan. rio yang selama ini melupakannya, menjahuinya, bahkan tak perna mengingatnya sedikitpun kini telah berdiri di depannya sambil tersenyum. “apakah aku harus marah, senang, atau aku harus mengusirnya” semua itu menari-nari indah di pikiran ku. aku hanya memandangnya sekilas, lalu melanjutkan kegiatanku yang tertunda akibat kehadirannya

“fy, kok belum pulang?”.

“belum di jemput! Jawabku sekenanya”.

“pulang bareng aku mau gak fy?”.

“enggak! Jawabku tegas”.

Rio sedikit kecewa dengan jawabanku, tapi begitulah lebih baik dari pada saat ini memberikan perhatian tetapi akhirnya pergi tanpa pamit. io, aku bisa pulang sendiri, kalopun aku tidak di jemput aku bisa pulang naik taksi. dan kalopun juga tak ada taksi aku masih punya kaki yang bisa aku gunakan untuk pulang. ujarku pergi meninggalkan rio sendiri

Sejak kejadian itu rio selalu memberikan perhatian lebih untuk ify, setahun ini yang tak perna ngesms ify atau telpon kini rutin rio lakukan. mengirimi ify ucapan selamat tidur, jangan lupa makan, ataupun istirahat yang banyak tak ketinggalan tiap kali rio sms ify, tapi tak ada satupun sms rio yang di balas sama ify, karna ify tau jika dia ngebalasnya itu sama saja membuatnya jatuh ke lubang yang sama. kini hubungan rio dan agni sudah merenggang, rio sudah tak tahan dengan perlakuan agni kepadanya yang semena-mena bahkan di temat umum agni berlaku seorang putri yang di dampingi pengawalnya. rio tak bisa lagi berkumpul bersama sahabat-sahabatnya karna setiap hari agni membuatnya pusing dengan bermacam-macam perintahnya. kini yang rio rasakan bukan lagi pacaran tetapi sudah seperti pekerja paksa oleh pacarnya sendiri.

Seminggu berlalu, dan kini menjadi puncak kemarahan rio, saat dia dan anak osis yang lain sedang rapat, agni datang langsung marah-marah gak jelas. malu itulah yang rio rasakan, dia seorang ketua osis tapi di perlakukan seperti ini. rio mencoba bersabar dengan segala macam omelan agni untuknya.

“io, kamu kenapa sih ngejahuin aku, gak perna lagi perhatian bahkan kamu ngelupain aku hanya karena perempuan gila itu. dengar yah io dia gak pantas mendapati perhatian dari kamu, apa untungnya sih perhatian sama cewek gila kayak gitu. omel agni tanpa henti”.

“agni stop teriak rio yang sudah siap menampar agni, tapi rio urungkan niatnya karena kini ify sudah berada di depan pintu melihat pertengkaran mereka. agni mengikuti arah pandang rio, agni tersenyum licik ‘saatnya buat perempan gila ini malu’ ujarnya dalam hati menuju ke tempat ify”.

“heh! Perempuan gila lu sadar gak sih lu itu gak pantas dapat perhatian dari pacar gue. dan lu itu juga gak pantas skolah disini, gak ada yang mau berteman dengan lu. lu tau gak gue senang banget waktu lu gila karna selama ini dendam gue terbayar. lu yang buat cakka ninggalin gue untuk selamanya, dan kini gue puas bisa bikin hidup lu menderita, gue puas bisa misahin lu dari rio orang yang lu cintai. ify tak memperdulikan semua perkataan agni, ify malah asik bersama IPODnya, agni yang kesel sama ify sudah siap mau nampar ify tapi sebelum tangan agni kena pipi ify rio sudah mencegahnya.

“makasih agni, gue tau gue memang gila tapi gue masih punya perasaan gak seperti lu. dan harus lu tau gue gak perna minta perhatian dari pacar lu. gue masih punya orang tua dan sahabat gue. gue gak butuh lu dan juga pacar lu ini, tunjuk ify ke muka rio dan agni”.

Rio pun sudah gak tahan dengan semua yang telah agni lakuin kepada dia dan ify “lu dengar yah ag, gue nyesel perna suka dan cinta sama lu. lu itu memang gak pantas untuk di cintai. lu tau kenapa cakka ninggalin lu, karena sikap lu ini yang membuat cakka lebih memilih ify ke timbang lu, dan juga lu gak pantas dapat cinta dari gue ag, kita putus”.

“lu mutusin gue hanya karna perempuan gila ini io?”.

“ia, karna ify lebih pantas di cintai dari pada lu”.

“gue benci lu io, dan gue harap lu berdua gak akan perna bahagia untuk selamanya”.

Ify hanya tertawa mendengar pertengkaran rio dan agni, bukan karna ify senang mereka putus. tapi ify tertawa karena rio terlambat menyadari semuanya.

“fy, maafin aku yah, aku selama ini sangat bodoh, lebih milih agni dari pada kamu yang jelas-jelas sahabatku dari kecil. maaf juga fy aku terlambat menyadarinya, aku sadar aku sayang kamu fy bukan sebagai seorang sahabat, tapi sayang aku sebagai seorang yang memang pantas untuk aku cintai, dari kecil aku sudah cinta ma kamu fy, tapi aku takut cinta ini akan hancurin persahabatan kiya. makanya aku lebih memilih bersama agni”.

“bukan cinta yang menghancrkan persahabatan kita, tapi dirimu sendiri io yang ngehancurin semuanya. kamu ingat io ini hari apa? ini hari special kita io, persahabatan kita sudah 11 tahun tapi kamu gak perna ingat itu. terus skarang kamu bilang cinta ma aku, maaf io jawabanku ada di lagu yang akan aku nyanyiin ini”.

Dulu pernah ada cinta
Dulu pernah ada sayang
Namun kini tiada lagi perasaan seperti dulu
Kini tiada lagi kisah
Cinta ku telah musnah sudah
Hancur hati ku, telah kau sakiti perasaan ku
Biarkan ku pergi..
Jangan kau tanyakan lagi..
Ku yakin ini yang terbaik untuk kau dan diri ku
Biarkan berlalu,rasa cinta ini di hati..
Ku tak bisa untuk menahan, aku luka di sini

Maaf io lagu ini adalah perasaaanku sekarang kepadamu. jika kita di takdirkan bersama suatu saat nanti kita pasti bersama. tapi tidak untuk hari ini. aku juga sekalian mau pamit io ntar malam aku harus berangkat ke korea mengikuti kedua orang tuaku. jaga dirimu disini io jangan perna menangisi sesuatu yang telah berlalu, hidup terus berjalan, kenangan kita bukanlah untuk dilupakan, tetapi bisa menjadi pembelajaran untuk kehidupan kita selanjutnya. makasi untuk 10 tahun kebersamaan kita io, aku bahagia sangat bahagiaselamat tinggal io, kecupan lembut ify mendarat di pipi rio. aku pergi io membawa segenggam harapan untukmu dan juga untukku.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Cinta Dalam Hati

Rio adalah seorang remaja yang memiliki banyak bakat, di antaranya bermain
basket dan bernyanyi. Dia juga baik dalam pelajaran. Ia memiliki banyak teman,
ia seolah memiliki semua yang diinginkannya. Namun semua itu berakhir ketika
sesuatu terjadi.

Dokter memvonis Rio kena leukimia yang sudah tidak dapat ditolong lagi dan
diperkirakan hidupnya tinggal 3 bulan. Setelah mendengar kabar itu, Rio seolah
kehilangan semuanya. Sebenarnya ia tidak kehilangan semuanya, ia hanya
kehilangan satu, yaitu semangat hidupnya.

Suatu hari datanglah kelompok dari suatu yayasan yang biasanya mendoakan tiap
pasien di rumah sakit. Rio tidak tau pasti orang-orang menyebut mereka apa,
tapi ia menyebut mereka, tapi ia menyebut mereka Kelompok Doa.
Nggak ada gunanya…toh, bentar lagi juga aku mati….batinnya.
Tapi tanpa diduga ternyata salah seorang anggota dari kelompok itu membawa anak
perempuannya. Anak perempuan itu cantik sekali. Rio serasa akan mati sekarang
karena ia didatangi malaikat pencabut nyawa yang sangat menawan.

“Tunggu!”kata Rio saat gadis itu akan pulang.
“Nnng, siapa namamu?”tanya Rio. Gadis itu tersenyum.
“Sivia. Namaku Sivia. Namamu?”tanyanya ramah.
“Rio.”kata Rio. “Ehm, apa besok kamu akan ke sini
lagi?”tanya Rio dengan perasaan berharap.
Sivia terdiam, lalu tersenyum manis.
“Ya, pasti. Besok aku akan ke sini lagi.”

Benar saja, besoknya Sivia datang sendirian. Ia masih mengenakan seragam.
“Eh, kamu anak sekolahku ya?”tebak Rio.
“Masa sih?”
“Iya, ah, seragammu itu seragam sekolahku. Kamu kelas berapa?”tanya
Rio.
“Kelas 7-3.”jawab Sivia.
“Oooo…pantes, aku kan kelas 7-1…”kata Rio sambil manggut-manggut.
Sivia senyum-senyum.
“Kita main basket yuk! Kebetulan di luar ada ring basket!”
“Hah? Basket?”
“Iya, kata mamamu kamu jago basket!”kata Sivia.
Rio terdiam sejenak. Sejak divonis, ia tak pernah mengingat bakatnya itu.
“Oke deh!”

SRAAAKK!!
“Wah, Rio, kamu benar hebat!”kata Sivia.
“Iya, dong, Rio!”kata Rio sambil bergaya bak supermodel.
“Hahahaa, kamu lucu ya! Hehee..”kata Sivia sambil menunjukkan senyuman
khasnya. Senyum kesukaan Rio.
“Eh, Rio…nnng, bukannya bermaksud apa-apa, aku cuma mau bilang…”
“Apa?”
“…kamu masih beruntung, kamu memiliki waktu 3 bulan untuk menikmati
dunia. Jadi kusarankan saja, kamu tidak menyia-nyiakannya. Nikmatilah dunia
dalam waktu 3 bulan.”kata Sivia sambil menatap Rio lekat-lekat.
Rio terdiam.
“Tapi sebentar lagi aku akan mati. Kalau aku mati…semua yang sudah
kulakukan di dunia seakan tidak ada gunanya lagi! Toh, nanti aku akan tinggal
nama saja!”kata Rio dengan mata memerah menahan air mata.
“Semua manusia akan mati, Yo. Aku pun akan mati. Kita tidak tau kapan
saja.”
“Tapi aku kan sudah tau!!”
“Tak penting jika kau tau. Yang penting adalah yang kau lakukan dalam sisa
hidupmu.”kata Sivia lembut. Rio terdiam, menunduk.
“Hei.”Sivia meraba rambut Rio.
“Yo, teman-temanmu pasti merindukanmu. Jika kau tiba-tiba saja menghilang
begitu, mereka makin rindu, dan menyesal tidak menghabiskan waktu mereka
bersamamu. Mereka pasti akan sangat sedih. Kamu mau mereka sedih?”
Rio menggeleng pelan. Sivia tersenyum.
“Terus terang, jika kamu tetap tidak mau bertemu teman-temanmu, aku
bersyukur bisa menghabiskan waktu denganmu. Tapi jika kau mau, datanglah ke
sekolah besok.”kata Sivia, tersenyum, dan pergi.

Sivia duduk di kursi temannya, Zahra. Ketika Zahra tiba, ia sedikit kaget Sivia
ada di kursinya.
“Lo, Siv kamu pindah kelas? Ini kelas 7-3 kan?”sapa Zahra.
“Oh ya? Wah, aku salah masuk.”kata Sivia dengan wajah senyum.
“Ah, wajahmu menunjukkan kau sengaja! Hayo, kok masuk-masuk! Dilarang
melebihi batas wilayah kekuasaan!”kata Zahra bak seorang kapiten.
“Ah, gak apa dong. Aku kan cuma liat-liat.”kata Sivia sambil manyun.
“Iya, iya.”
KREKK….
Terdengar pintu terbuka, dan Sivia melihat wajah seseorang yang familiar di
matanya.
“RIOOOO!!”teriak seorang cowok berpostur tubuh imut di dekat pintu.
“Wuaaa…kamu ke mana ajaaa!? Aku kangen di sini
tauuu…huhuhuhu…”kata si cowok mungil.
“Sabar dong, Ozy….kamu nggak akan menciumku kan?”goda Rio dengan
wajah merayu.
“Nggak! Amit-amit!”kata Ozy sambil melepaskan pelukannya dari Rio,
lalu menghapus air matanya.
“Idih, Ozy gitu aja nangis. Kalo nangis pagi-pagi nanti pusing
loh.”kata Rio. Lalu seseorang merangkulnya dari belakang.
“Ke mana aja sih? Tim basket pada kelimpungan tau, nyariin kamu.”kata
si cowok.
“Alvin…”gumam Rio.
“Hei, Rio! Selama kamu gak ada Ozy murung melulu lho! Katanya gak ada
partner lawaknya!”kata Keke. Yah, RiOzy memang dikenal sebagai duo lawak.
“Yaaaa…karena itu saya sepi job.”kata si Ozy dengan wajah memelas.
“Tapi sekarang gak lagi! Saya rame job! Mari kita berkarya!”kata Ozy
sambil menarik tangan kanan Rio.
“Nggak! Rio mesti ngajarin aku matematik dulu!”kata Lintar sambil
menarik tangan kiri Rio.
“Heeei….di sini para fans Rio udah lama gak denger Rio nyanyi! Ayo nyanyi
dulu!”teriak Dea dan Keke sambil menarik-narik kerah baju Rio.
Rio tersenyum geli dan membiarkan teman-temannya menarik-narik dia. Lalu ia
melepaskan diri dari semuanya.
“Oke, oke, sipp….tapi sekarang, basket dulu dong!!”kata Rio dengan
sambutan sorakan “yaaah”dari teman-temannya.
Rio melirik ke arah Sivia. Sivia tersenyum penuh arti. Rio mendatangi Sivia.
“Ternyata kamu bener…”bisiknya ke Sivia.
“Tuh, kan, kangen mereka.”kata Sivia sambil tersenyum.
“IDIH!! SIVIA MA RIO ADA APA YA!! KOK CIUMAN!”teriak Ozy.
“Ngawur ah, aku bisik-bisik kok!”
“Bisik apa? I loph yuuuuu….”goda Nyopon, dengan sambutan
“cieee”dari teman-teman sekelasnya.
“Idih! Kalian usil ah! Eh, sori ya, Siv…”
“Nggak pa-pa kok…”

Akhirnya Rio menikmati sisa hidupnya tanpa menceritakan pada teman-temannya
soal penyakitnya. Ia pun semakin dekat dengan Sivia, tanpa sadar ia telah jatuh
cinta pada Sivia. Tapi saat menyadari perasaannya pada Sivia itu, hidupnya
hanya tinggal 1 minggu.
“Halo, Yo? Anu…aku ada les nih, kayaknya gak bisa dateng ke rumahmu hari
ini.”kata Sivia di telepon.
“Eh? Oh,ya…”
Lalu telepon ditutup.
Entah kenapa Rio merasa ada apa-apa dengan Sivia. Ia tidak dapat meninggalkan
Sivia.
Ah, aku terlalu overprotektif, dia pasti tidak apa-apa!batin Rio lalu
merebahkan diri dan tidur.

Ciittttt…BRAAAAKKK!!!
Rio menatap tubuh yang sudah tidak bernyawa itu. Ia memeluk tubuh itu.
“SIVIAAA…”teriak Rio, lalu terbangun.
“Hhhh….mimpi….”kata Rio terengah-engah. Ia merasa khawatir
sekali. Lalu ia membuka pintu kamarnya dan pergi meninggalkan rumah.

Di tepi jalan raya, Rio melihat ke arah seorang gadis. Sivia! Tapi….dalam
beberapa meter ada mobil berjalan ugal-ugalan ke arah Sivia dan dalam beberapa
menit akan menabraknya. Rio mengalami perang batin. Ia harus memilih, hidup
Sivia atau hidupnya yang tinggal 1 minggu….

Ambulans dan mobil polisi berseliweran di sana. Sekerumunan orang-orang ikut
menangis bersama sang gadis. Beberapa orang menyuruh anggota medis untuk
mengangkat orang itu, tetapi mereka menggeleng. Seperti nya nyawanya sudah
tidak dapat diselamatkan lagi.
“Riooo…Rio…jangan pergi Riooo…”isak Sivia sambil memeluk tubuh
Rio.
“Hhh…Siviaa…”gumam Rio.
“Riooo…Rio, kamu jangan pergi…aku gak mau kehilangan kamu…”kata
Sivia sambil terus menangis.
“Sivia…jangan nangis…aku…mau bilang sesuatu…”Lalu ia memeluk
Sivia.

“Aku sayang kamu…”

“Aku juga Rio..aku sadar aku sangat menyayangimu..tolong jangan tinggalkan
aku sendiri…”kata Sivia.

“Maaf ya…Sivia…bye-bye…”Rio tersenyum kecil, lalu menutup
matanya.

“Hikss..RIOOOOO!!!”

Ku ingin kau tau
Diriku di sini
Menanti dirimu
Meski kutunggu hingga ujung waktuku
Dan berharap rasa ini abadi untuk selamanya
Dan ijinkan aku memeluk dirimu skali ini saja
Kuucapkan selamat tinggal untuk selamanya
Dan berharap rasa ini bahagia untuk sekejap saja…

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Tentang Aku,Kamu,Dia dan Mereka,,Terkadang Jujur memang menyakitkan,,

Alvin cemburu melihat Dea berduaan dengan Rio. Dia membuat Rio babak belur, lalu mengajaknya bertanding basket untuk memperebutkan Dea. Rio menyanggupinya. Sampai akhirnya… Rio lah yang menang. Bagaimana dengan Alvin? Terus, siapa akhirnya yang bersama Dea?

***

Saat mendengar pengumuman pemenang tadi, orang yang pertama kali Rio lihat adalah Dea. Dilihatnya Dea juga sedang balas menatapnya. Saat pandangan mereka bertemu, Dea tersenyum lalu mengacungkan jempolnya. Rio balas tersenyum. Dia berlari menghampiri teman-temannya yang berada di antara kerumunan penonton.

“Selamat ya Yo. Yaa.. walaupun sekolah gue kalah, tapi lo bener-bener hebat tadi mainnya. Lo gak malu-maluin gue sebagai sepupu lo.” Zevana yang pertama kali berdiri dan menyalami Rio. Rio tersenyum, lalu membalas jabatan tangan Zevana.

“Kamu hebat Yo.” kata Nova. Dia menyalami Rio. Lintar mengangguk setuju, lalu ikut menyalami Rio. Rio tersenyum pada mereka berdua.

“RIOOO! Sumpah deh Yo, walaupun gue rada aneh ngucapin ini, tapi LO KEREN BANGET tadi!” teriak Ozy tiba-tiba, lalu memeluk Rio. Rio langsung berusaha melepaskan pelukan Ozy.

“Zy, gue tau tadi gue emang keren. Dan emang dari dulu juga gue udah keren. Tapi bisa gak sih gak usah peluk-peluk? Gue ini cowo normal dan masih menjunjung tinggi ke-lakilaki-an gue!” kata Rio. Ozy merengut, sedangkan yang lain tertawa.

“Ngg.. Yo.” Dea berbicara di tengah tawa anak-anak lain. “Selamat ya. Kamu emang pantes jadi juara.” katanya. Dia ikut menyalami Rio. Tapi kenapa gue gak bisa jadi juara di hati lo De? kata Rio dalam hati.

“Oke, sekarang saatnya pengumuman untuk juara MVP.Sudah bisa ditebak, pemenangnya adalah… Mario Stevano,dari Tim SMP Negeri 2 Tondano!”

Semua anak yang masih berada di lapangan bersorak. Rio turun dari bangku penonton, lalu menuju atas panggung untuk menerima medali. Beberapa teman cewek memberi nya tepuk tangan heboh. Rio naik ke atas panggung sambil tersenyum. Juara dan MVP ada ditangannya, dan dia memenangkan pertandingan. Semua itu seperti mimpi untuk Rio.

Setelah pemberian medali dan pembagian hadiah, Rio turun. Dilihatnya hanya ada Dea di bawah panggung. Yang lainnya pergi entah kemana.

“Ciee.. Yang medalinya bagus.” kata Dea. Mereka tertawa kecil.

Tiba-tiba Rio melepaskan medalinya, lalu mengalungkannya di leher Dea. Dea terkesiap. Rio sendiri tidak tau darimana dia mendapat keberanian untuk melakukan itu. “De…. Sebenernya, gue…” Rio berkata dengan terbata-bata.

Tidak ada yang berbicara. Bahkan tidak ada yang punya niat untuk memotong ucapan Rio. Itu semua malah membuat Rio semakin kesulitan untuk melanjutkan kalimatnya.

“Gue menangin pertandingan ini…. Buat lo, De.” kata Rio. Dea tersentak. Beberapa lama, suasana hening. Tanpa sadar, akhirnya tinggallah Rio dan Dea berdua di lapangan. Teman-teman mereka lenyap entah kemana, bahkan bayangan merekapun tidak terlihat.

“Saat indah yang kulalui bersamamu
Melukiskan kisah cinta di dalam lubuk hati
Terbuai nafas cinta yang kau hembuskan
Sampai mati ku takkan bisa melupakanmu…

Dea menatap Rio tidak percaya. Tangannya menggenggam medali yang dikalungkan Rio dilehernya itu erat. Rio tidak peduli dengan kehebohan yang terjadi, dan terus melanjutkan nyanyiannya.

Harus ku akui..
Aku sayang kamu, aku cinta kamu..
Oh hanya pada dirimu..
Kuingin kau mampu, terima hatiku…

Dengan segenap kekuatannya, Rio menatap mata Dea dalam-dalam. Dea masih menatapnya tidak percaya. “Terima akan cintaku..” lanjutnya, lalu menunduk. Dalam hati dia menyesal karena telah melakukan hal tadi. Harusnya tidak secepat ini. Tapi, ya.. Walaupun mungkin terdengar kekanak-kanakan, Rio takut kehilangan Dea jika dia tidak segera melakukan ini semua.

“Mm.. Maaf Yo..” kata Dea memecah keheningan. Rio mengangkat wajahnya. “…tapi, aku gak bisa…” katanya lagi. Rio langsung lemas seketika. “…aku belum putus dari Alvin..”

Setelah itu, tidak ada lagi di antara mereka yang berani memulai pembicaraan. Dea menggigit bibirnya. Apakah ini semua keputusan yang tepat? Menolak Rio? Tapi… Kalo Dea menerima Rio, tandanya sama aja dia menyakiti Alvin.

“Gapapa kok De.” tiba-tiba, Alvin muncul dari belakang Dea dan Rio. Mereka serempak menoleh ke belakang.

“Alvin..”

“Gue yang salah kok dalam hal ini, makanya gue harus tanggung jawab. Gua yang ngajak Rio tanding tadi buat bersaing ngedeketin lo. Dan sebagai laki-laki, gue harus nerima apapun hasil pertandingan.” kata Alvin. Dia menatap Rio dan Dea bergantian.

“Ya, walaupun emang harus gue akui, berat buat ngelepas lo De. Tapi disisi lain gue juga sadar, kalo cinta itu emang gak bisa dipaksain. Walaupun gue sayang banget sama lo, tapi gue gak bisa maksa lo buat sayang juga sama gue.” kata Alvin. Dia terus melanjutkan, dan tidak membiarkan seorangpun untuk memotong kata-katanya.

“Selama lo jadian sama gue, lo emang selalu ada di samping gue. Selalu berusaha untuk ada buat gue. Tapi gue tau De, hati lo gak pernah ada di samping gue. Hati lo gak pernah ada buat gue. Selama ini gue mencoba buat gak peduli dan berusaha untuk gak mau tau, tapi tetep gak akan sama. Sekeras apapun gue mencoba untuk membuat lo sayang sama gue, semakin gue sadar, kalo lo semakin jauh.” kata Alvin lagi. “Dan gue tau, selama ini hati lo cuma untuk…”

Alvin tiba-tiba meraih tangan Dea dengan tangan kanannya, dan meraih tangan Rio dengan tangan yang satunya lagi. Rio dan Dea sama-sama bingung, tapi tidak ada satupun dari mereka yang mencoba mencegah perbuatan Alvin itu. Alvin menyatukan tangan mereka dalam genggamannya, lalu tersenyum.

“Hati Dea cuma buat lo, Yo.” kata Alvin pada Rio. Rio mengalihkan pandangannya dan menatap Dea. Dea sendiri tetap menatap Alvin. Matanya berkaca-kaca.

“Mm… Maaf…” kata Dea. Suaranya bergetar hebat. Alvin memaksakan senyum.

“Bukan salah lo kok De, harusnya malah gue yang minta maaf. Gue egois, gue mentingin perasaan gue sendiri dan pura-pura gak tau kalo hati lo emang udah dimiliki sama orang lain sejak delapan bulan yang lalu…” kata Alvin.

“Tunggu. Maksud lo ‘udah dimiliki orang lain sejak delapan bulan yang lalu’ apa? Lo ngomong njelimet banget sih, pusing gue dengernya!” Rio memotong kalimat Alvin.

“Lo gak tau Yo? Harusnya gue emang gak perlu minta lo bersaing buat ngedeketin Dea. Gue juga gak perlu maksa Dea untuk milih. Karena sebenernya, Dea udah memilih sejak delapan bulann yang lalu.” kata Alvin. Rio tambah bingung.

“Maksud lo apaan sih?”

“Yo, sebenernya Dea udah milih lo sejak delapan tahun yang lalu. Sejak kalian masih kecil dulu. Sekeras apapun gue nyoba, gue gak akan pernah menang kalo bersaing sama lo. Karena gue tau, Dea udah nutup hatinya dari orang lain selain lo, Yo.” kata Alvin. Dia melepas tangan Rio dan Dea dari genggamannya, lalu menepuk pundak Rio pelan.

“Jaga Dea ya. Gue yakin lo emang orang yang tepat buat dia.” kata Alvin. Rio mengangguk, lalu tersenyum.

“Thanks.” kata Rio. Dia lalu memeluk Alvin sambil menepuk pundaknya. ‘Pelukan Persahabatan’ pastinya. Setelah melepas pelukan Rio, Alvin mulai melangkah menjauh.

“Vin.” kali ini, Dea mulai berbicara. “Kamu tau darimana kalo aku sama Rio pernah ketemu delapan bulan yang lalu?”

Alvin menghentikan langkahnya, lalu berbalik. Dia tersenyum lagi. “Dari sini.” katanya sambil menepuk dadanya sendiri. Dia berbalik lagi, lalu pergi. Meninggalkan Rio dan Dea berdua disana.

Rio dan Dea terdiam. Sampai saat mata mereka bertemu, keduanya menunduk.

Semuanya akan berubah mulai sekarang…

***

Alvin berjalan tanpa arah. Dia mencari tempat yang sepi untuk berdiam diri. Sampai akhirnya Alvin menemukan sebuah bangku di sudut taman yang tersembunyi. Dia duduk.

“Alvin!” Dari belakangnya, Alvin bisa mendengar suara Zevana. Suara beratnya terdengar khawatir. Tak lama, Alvin juga mendengar derap langkah kaki Zevana mendekat.

“Lo gapapa kan?” tanya Zevana. Alvin menggeleng. Zevana menghela nafas, lalu duduk di sebelah Alvin.

“Boong.”

“Gue gapapa Ze, beneran deh.” kata Alvin. Zevana menggeleng, lalu menatap Alvin. Matanya berkabut, mendung. Sebentar lagi pasti hujan. Hujan air mata Alvin.

“Kalo lo mau nangis, ya nangis aja. Nangis itu bisa bikin lega kok. Lagian kan cuma ada gue kan disini.” kata Zevana.

“Siapa bilang gue mau nangis? Gue beneran gapapa Ze. Gue seneng kok liat Dea seneng sama Rio. Gue bahagia kalo liat dia bahagia.” kata Alvin.

“Vin. Mungkin lo bisa boong sama orang lain, tapi lo gak bisa boong sama gue. Gue bisa liat kok dari mata lo kalo lo sakit. Gue tau Vin, gimana rasanya kalo ngeliat orang yang kita sayang ternyata malah bahagia sama orang lain.” kata Zevana. Alvin terdiam. Zevana menghela nafas lagi. Andai Alvin tau…

“Vin..”

“Emang kalo gue sakit semua bakal berubah? Kalo emang gue gak bisa ngeliat Dea sama Rio, apa itu semua ngerubah keadaan? Enggak kan Ze?” kata Alvin.

Kali ini Zevana yang terdiam. Dia menatap Alvin lama. Tapi gue gak nyangka kalo lo bakal sesakit ini cuma karena kehilangan Dea, Vin..

“Kalo emang lo gak bisa ngerubah keadaan, lo gak boleh ngebiarin keadaan ngubah lo.” kata Zevana.

Alvin lagi-lagi terdiam. Memang benar kata Zevana, dia gak boleh ngebiarin keadaan ngubah dia. Harusnya malah dia yang ngubah keadaan.

“Ingin ku mengejar seribu bayangmu.. Namun apa daya tangan tak sampai.. Memang benar apa kata pepatah.. Kalau jodoh gak lari kemana..” Zevana bersenandung pelan. Alvin menatapnya sambil tersenyum.

“Haha, lo nyindir gue ya?” katanya.

“Yee.. Siapa juga. Gue cuma mau ngasih tau lo, kalo emang jodoh ya pasti lo bakal bersatu lagi sama Dea. Atau… Mungkin aja jodoh lo lebih baik dari Dea. Gak ada yang tau kan? Pacar kita di masa-masa sekarang kan belum tentu jodoh kita nanti.” kata Zevana. Senyum Alvin memudar, lalu dia menatap kosong ke depannya.

“Elahh.. Kok lo jadi mellow lagi sih? Cheer up dong! Hidup lo belom berenti cuma karena hal kaya gini. Masih banyak cewe yang suka sama lo kali.” kata Zevana sambil meninju pundak Alvin pelan. Alvin hanya tersenyum tipis, tapi tidak mengalihkan pandangannya.

Zevana bangkit. Mungkin dia memang harus memberi Alvin waktu untuk sendiri. Tapi, tangan Alvin tiba-tiba menahannya.

“Thanks.” katanya. Sepertinya Alvin mencoba untuk tersenyum tulus, tapi yang terlihat oleh Zevana malah senyum getir. Miris. Senyum orang yang mencoba menyembunyikan luka. Zevana menghela nafas, mengangguk, lalu pergi. Sekali lagi dia melihat Alvin. Matanya masih tersapu kabut.

Alvin, ijinin gue membawa matahari cerah untuk mengganti kabut di mata lo itu..

****

“Rio.”

Rio mengangkat wajahnya, lalu melihat seseorang yang sedang berdiri tegak di hadapannya. Wajah dengan dagu lancip, tapi kali ini tidak dengan senyum manis yang biasa menghiasi wajahnya. Rio menghela nafas. Ify.

“Rio.” ulang Ify lagi.

“Ada apa?”

“Gue liat waktu lo sama seorang cewek di lapangan tadi. Siapa itu namanya? Dea ya?”
tanya Ify. “Lo jadian sama dia? Beneran?” tanyanya lagi. Rio menunduk.

“Menurut lo?”

“Apa itu artinya… Lo nolak gue?” tanya Ify lagi. Dia menggigit bibir.

“Sorry Fy, tapi gue… Gue gak bisa..” Rio mengacak-acak rambutnya bingung. Rio tau, Ify tidak terbiasa kalah. Dan karena kali ini Ify harus kalah, pasti rasanya sakit sekali. “Maaf.”

Ify terdiam lagi sambil menatap Rio dalam. Maaf? Apa maaf bisa menyembuhkan luka heh? Enggak! Sebanyak apapun kamu minta maaf, luka ini gak akan pernah hilang..

“Oh. Gapapa kok. Gue ngerti. Gue mau ngasihin ini sama lo, mudah-mudahan lo dateng.” kata Ify. Dia menyodorkan satu lembar undangan untuk Rio. Rio menatap undangan itu bingung, lalu mengangguk. Setelah itu, Ify pergi.

UNDANGAN

Ify’s Fourteen Birthday Party
Tonight @ 7 a.m.
Place: Rainbow Palace

 

P.S: Semua orang yang diundang diharapkan membawa pasangannya masing-masing.
***

Rio sudah siap dengan setelannya, dan sekarang sedang menunggu di depan hotel tempat Dea menginap. Rio tidak memakai jas atau setelan formal yang lain, dia hanya memakai kemeja hijau muda polos. Celananya pun celana jeans biasa, bukan celana katun yang biasa dipakai di acara formal. Lagian, apa Rio terlihat seperti orang yang biasa memakai pakaian seperti itu?

 

 
Rio berkali-kali menelepon Dea dengan handphone-nya,yang selalu dijawab Dea dengan kata “sebentar”. Teh botol yang tadi Rio beli sudah habis lebih dari setengahnya.

Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Dea keluar juga. Rio terperangah melihat setelan Dea yang beda dari biasanya. Tanpa mereka sadari, warna baju yang mereka kenakan berwarna senada. Dea memakai gaun hijau muda sederhana yang warnanya hampir mirip dengan baju Rio, lalu ditutup dengan cardigan warna hijau yang lebih tua. Tak lupa Dea juga menyematkan bando warna senada di kepalanya yang membuatnya tambah manis.

 

“Maaf ya nunggu kelamaan..” kata Dea pelan, membuat khayalan indah Rio seketika tertiup angin. Rio tersenyum tipis.

“Gapapa kok.”

“Ya udah, ayo! Udah hampir jam 7 malem nih. Mudah-mudahan aja nyampe sana jam tujuh pas.” kata Dea sambil tersenyum. Rio segera bangkit, lalu menarik tangan Dea menuju mobil yang ia pinjam dari kakaknya untuk malem ini.

Sampai di depan mobil, Dea terdiam. “Ini mobil kamu Yo?” tanyanya heran.

“Ya bukanlah. Ini punya Kak Marcel, aku pinjem sebentar untuk malem ini doang.” kata Rio. “Ah, udah deh gak usah diomongin. Ayo cepetan De!” kata Rio lagi sambil membukakan pintu mobilnya untuk Dea.

“Silahkan masuk Tuan Putri..” kata Rio pelan sambil membungkuk sedikit, dan bibirnya mengulum senyum. Dea tertawa kecil, lalu balas membungkuk. Tak lama, dia masuk. Rio menutup lagi pintu mobilnya sambil senyum-senyum sendiri.

Tak lama, mobil melaju menuju Rainbow Palace.

 
***

Tok, tok, tok. Alvin menggedor pintu kamar seseorang dengan heboh. Dia berdecak kesal, lalu menatap jam tangan dan pintu di depannya bergantian. Kebetulan, semua Tim Basket SMP Bintang juga diundang ke acara ulang tahun Ify. Dan semuanya sudah pergi sejak jam setengah tujuh malam tadi dengan pasangan masing-masing.

“Iya iya bentar, gak sabaran amat sih?! Gue lagi nyari handphone gue nih.. Pake ilang lagi, ah!” terdengar suara seorang gadis dari dalam. Alvin berdecak kesal lagi.

“Udah deh hapenya ditinggal aja! Udah jam tujuh lewat ini!” teriak Alvin lagi. Bersamaan dengan itu, pintu kamar itu terbuka.

“Sabar dikit napa sih?! Lagian cuma acara ulang tahun doang. Ribet amat sih lo.” kata gadis itu. Alvin terdiam, terpesona dengan kecantikan gadis yang ada didepannya sekarang. Gadis itu menatap Alvin heran, lalu menggoyangkan tangannya di depan muka Alvin.

“Woy.. Alvin? Lo kenapa? Tadi nyuruh gue cepet-cepet, sekarang malah bengong. Ayo buruan!” kata gadis itu lagi.

“Eh, iya iya.” Alvin tersadar, lalu menarik tangan gadis itu untuk menyetop taksi.

Alvin tersenyum. Sepertinya mengajak gadis itu malam ini memang bukan ide yang buruk.

***

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Lirik Lagu yang Bisa Bikin Aku Bahagia

Rindukan Dirimu

MaRio Stevano

berjanjilah wahai sahabatku
bila kau tinggalkan aku
tetaplah tersenyum
meski hati sedih dan menangis
kuingin kau tetap tabah menghadapinya

bila kau harus pergi meninggalkan diriku
jangan lupakan aku
semoga dirimu di sana
kan baik2 saja
untuk selamanya
di sini aku kan selalu rindukan dirimu
woo .. hooooo ..
wahai sahabatku

Rindukan dirimu …  :)

 

I’m Yours

MaRio Stevano,,Jason Mraz

Well you done done me and you bet I felt it
I tried to be chill but you’re so hot that I melted
I fell right through the cracks
and now I’m trying to get back
Before the cool done run out
I’ll be giving it my bestest
Nothing’s going to stop me but divine intervention
I reckon its again my turn to win some or learn some
*courtesy of LirikLaguIndonesia.net
I won’t hesitate no more, no more
It cannot wait, I’m yours

Well open up your mind and see like me
Open up your plans and damn you’re free
Look into your heart and you’ll find love love love
Listen to the music of the moment maybe sing with me
Ah, la peaceful melodys
It’s your God-forsaken right to be loved love loved love love

So I won’t hesitate no more, no more
It cannot wait I’m sure
There’s no need to complicate
Our time is short
This is our fate, I’m yours

I’ve been spending way too long checking my tongue in the mirror
And bending over backwards just to try to see it clearer
But my breath fogged up the glass
And so I drew a new face and laughed
I guess what I’m saying is there ain’t no better reason
To rid yourself of vanity and just go with the seasons
It’s what we aim to do
Our name is our virtue

I won’t hesitate no more, no more
It cannot wait I’m sure
There’s no need to complicate
Our time is short
This is our fate, I’m yours

Well no no, well open up your mind and see like me
Open up your plans and damn you’re free
Look into your heart and you’ll find love love love love
Listen to the music of the moment come and dance with me
ah, la one big family (2nd time: ah, la happy family)
It’s your God-forsaken right to be loved love love love

I won’t hesitate no more
Oh no more no more no more
It’s your God-forsaken right to be loved, I’m sure
Theres no need to complicate
Our time is short
This is our fate, I’m yours

No I won’t hesitate no more, no more
This cannot wait I’m sure
There’s no need to complicate
Our time is short
This is our fate, I’m yours, I’m yours

Takkan Terganti

MaRio Stevano,,Marcell

Telah lama sendiri
Dalam langkah sepi
Tak pernah kukira bahwa akhirnya
Tiada dirimu di sisiku


Meski waktu datang dan berlalu
Sampai kau tiada bertahan
Semua takkan mampu mengubahku
Hanyalah kau yang ada di relungku


Hanyalah dirimu
Mampu membuatku jatuh dan mencinta
Kau bukan hanya sekedar indah
Kau tak akan terganti

Tak pernah ku duga bahwa akhirnya
Tergugat janjimu dan janjiku

Kau tak akan terganti

 

Dealova

MaRio Stevano,,Once

Aku ingin menjadi mimpi indah
Dalam tidurmu
Aku ingin menjadi sesuatu
Yang mungkin bisa kau rindu

Karena langkah merapuh
Tanpa dirimu
Oh… Karena hati tlah letih

Aku ingin menjadi sesuatu
Yang slalu bisa kau sentuh
Aku ingin kau tahu bahwa aku
Selalu memujamu

Tanpamu sepinya waktu
Merantai hati
Oh… Bayangmu seakan-akan

Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang
Memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada

Oh…

Hanya dirimu
Yang bisa membuatku tenang
Tanpa dirimu
Aku merasa hilang… dan sepi
Dan sepi…

Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang
Memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada

Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang
Memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada

Selalu ada…
Kau selalu ada…
Selalu ada…
Kau selalu ada…

 

Symphony Yang Indah

MaRio Stevano,,Once

Alun sebuah symphony
Kata hati disadari
Merasuk sukma kalbuku
Dalam hati ada satu
Manis lembut bisikanmu
Merdu lirih suaramu
Bagai pelita hidupku

Berkilauan bintang malam
Semilir angin pun sejuk
Seakan hidup mendatang
Dapat ku tempuh denganmu

Berpadunya dua insan
Symphony dan keindahan
Melahirkan kedamaian
Melahirkan kedamaian

Syair dan melodi
Kau bagai aroma penghapus pilu
Gelora di hati
Bak mentari kau sejukkan hatiku

Burung-burung pun bernyanyi
Bunga-bunga pun tersenyum
Melihat kau hibur hatiku
Hatiku mekar kembali
Terhibur symphony
Pasti hidupku ‘kan bahagia

 

Tak Ada Tempat Seperti Surga

MaRio Stevano,,Samsons

Tak ada tempat seperti surga untuk ku habiskan hidupku denganmu
senandung alunan terindah akan ku lantunkan
teruntuk dirimu cinta, separuh darah hidupku

tak ada tempat seperti surga
tuk ku abadikan hidupku denganmu
barisan syair yang terindah akan ku lantunkan
teruntuk dirimu cinta, separuh sukma jiwaku
ku persembahkan hidupku tuk selamanya padamu
kan ku serahkan cintaku hanya untukmu selamanya
ku abadikan baktiku tuk selamanya padamu
kan ku serahkan ragaku hanya untukmu selamanya

tak ada tempat seperti surga
tuk ku habiskan hidupku denganmu
senandung alunan terindah akan ku lantunkan
teruntuk dirimu cinta separuh darah hidupku

selamanya

 

Ajari Aku

MaRio Stevano,,Adrian M.

Ajari aku ‘tuk bisa
Menjadi yang engkau cinta
Agar ku bisa memiliki rasa
Yang luar biasa untukku dan untukmu

Ku harap engkau mengerti
Akan semua yang ku pinta
Karena kau cahaya hidupku, malamku
‘tuk terangi jalan ku yang berliku

Hanya engkau yang bisa
Hanya engkau yang tahu
Hanya engkau yang mengerti, semua inginku

[ajari aku ‘tuk bisa mencintaimu]
[ajari aku ‘tuk bisa mengerti kamu]

Mungkinkah semua akan terjadi pada diriku
Hanya engkau yang tahu
Ajari aku ‘tuk bisa mencintaimu

Hidupmu Hidupku
MaRio Stevano,,Zigaz

Bening matamu
pancarkan kesedihan
tak pernah terlihat
selama ini

senyum pedihmu
lukiskan air matamu
perihnya hatimu
menyentuh batinku

reff:
sungguh mati aku tidak
bisa meninggalkan dia
walaupun kau dekap aku
ampun aku bila kini
yang terkuak hanya perih
yang mungkin kan menghantui
hidupmu hidupku

detak jantungmu
tegaskan perih hatimu
dan perih hatiku
hidupmu, hidupmu hidupku

 

Kasih Putih

MaRio Stevano,,Glenn F.

sedalam yg pernah kurasa
hasratku hanyalah untukmu
terukir manis
dalam renunganku jiwamu jiwaku menyatu

reff: biarkan kurasakan
hangatnya sentuhan kasihmu
bawa daku penuhiku
berilah diriku
kasih putih di hatiku
(kudatang padamu kekasihku)

kucurahkan isi jiwaku
hanya padamu
dalam air itu
kau bawa selamanya diriku

 

Kasih Tak Sampai

MaRio Stevano ft Patton,,Padi

Indah terasa indah
bila kita terbuai dalam alunan cinta
sedapat mungkin terciptakan rasa
keinginan saling memiliki

dan bila itu semua
dapat terwujud dalam satu ikatan cinta
tak semudah seperti yang pernah terbayang
menyatukan perasaan kita

reff: tetaplah menjadi bintang di langit
agar cinta kita akan abadi
biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini
agar menjadi saksi cinta kita berdua, berdua

sudah, terlambat sudah
ini semua harus berakhir
mungkin inilah jalan yang terbaik
dan kita mesti relakan kenyataan ini

 

Begitu Indah

MaRio Stevano,,Padi

Bila cinta menggugah rasa
Begitu indah mengukir hatiku
Menyentuh jiwaku
Hapuskan semua gelisah

Duhai cintaku duhai pujaanku
Datang padaku tetap di sampingku
Kuingin hidupku
Selalu dalam peluknya

Terang saja aku menantinya
Terang saja aku mendambanya
Terang saja aku merindunya
Karena dia karena dia begitu indah

Duhai cintaku pujaan hatiku
Peluk diriku dekaplah jiwaku
Bawa ragaku
Melayang memeluk bintang

Terang saja aku menantinya
Terang saja aku mendambanya
Terang saja aku merindunya
Karena dia karena dia begitu indah

Demi Cinta
MaRio Stevano,,Kerispatih

Maaf, ku telah menyakitimu
Ku telah kecewakanmu
Bahkan ku sia – siakan hidupku,
dan kubawa kau s’perti diriku
Walau hati ini t’rus menangis
Menahan kesakitan ini
Tapi ku lakukan semua demi cinta
Akhirnya juga harus ku relakan kehilangan cinta sejatiku
Segalanya t’lah ku berikan
Juga semua kekuranganku
Jika memang ini yang terbaik
Untuk diriku dan dirinya
Kan ku t’rima semua demi cinta

Reff :
Jujur, aku tak kuasa, saat terakhir ku genggam tanganmu
Namun yang pasti terjadi, kita mungkin tak bersama lagi
Bila nanti esok hari
Ku temukan dirimu bahagia
Ijinkan aku titipkan kisah cinta kita selamanya


Tercipta Untukku

MaRio Stevano,,Ungu

Menatap indahnya senyuman diwajahmu
membuat ku terdiam dan terpaku
mengerti akan hadirnya cinta terindah
saat kau peluk mesra tubuhku
banyak kata
yang tak mampu kuungkapkan
kepada dirimu

reff:
aku ingin engkau slalu
hadir dan temani aku
disetiap langkah
yang meyakiniku
kau tercipta untukku
sepanjang hidupku

aku ingin engkau slalu
hadir dan temani aku
disetiap langkah
yang meyakiniku
kau tercipta untukku
meski waktu akan mampu
memanggil seluruh ragaku
ku ingin kau tau
kuslalu milikmu
yang mencintaimu
sepanjang hidupku

aku ingin engkau slalu
hadir dan temani aku
disetiap langkah
yang meyakiniku
kau tercipta untukku
meski waktu akan mampu
memanggil seluruh ragaku
ku ingin kau tau
kuslalu milikmu
yang mencintaimu

 

Bukan Cinta Biasa

MaRio Stevano,,Afgan

Kali ini kusadari
Aku telah jatuh cinta
Dari hatiku terdalam
Sungguh aku cinta padamu

Cintaku bukanlah cinta biasa
Jika kamu yang memiliki
Dan kamu yang temaniku seumur hidupku

Terimalah pengakuanku
Percayalah kepadaku
Semua ini kulakukan
Karena kamu memang untukku

Cinta ku bukan cinta biasa
Jika kamu yang menemani
Dan kamu yang temaniku seumur hidupku
Terimalah pengakuanku

 

Mudah Saja

MaRio Stevano  ft Lintar,,SO7

Tuhan
Aku berjalan menyusuri malam
Setelah patah hatiku
Aku bedoa semoga saja
Ini terbaik untuknya

Dia bilang
Kau harus bisa seperti aku
Yang sudah biarlah sudah

Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Andai saja.. Cintamu seperti cintaku

Selang waktu berjalan kau kembali datang
Tanyakan keadaanku

Ku bilang
Kau tak berhak tanyakan hidupku
Membuatku semakin terluka

Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Coba saja lukamu seperti lukaku

Kau tak berhak tanyakan keadaanku
Kau tak berhak tanyakan keadaanku
Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Andai saja cintamu seperti cintaku

Mudah saja…

 

Harmony

MaRio Stevano,,Padi

aku mengenal dikau
tlah cukup lama separuh usiaku
namun begitu banyak
pelajaran yang aku terima

reff:
kau membuatku mengerti hidup ini
kita terlahir bagai selembar kertas putih
tinggal ku lukis dengan tinta pesan damai
dan terwujud harmoni

segala kebaikan
takkan terhapus oleh kepahitan
ku lapangkan resah jiwa
karna ku percaya kan berujung indah

repeat reff

harmoni, harmoni, harmoni

repeat reff

harmoni, harmoni

 

Rindu Setengah Mati

MaRio Stevano,,D’Massiv

Aku ingin engkau ada disini
menemaniku saat sepi
menemaniku saat gundah

berat hidup ini tanpa dirimu
ku hanya mencintai kamu
ku hanya memiliki kamu

Reff:
aku rindu setengah mati kepadamu
sungguh ku ingin kau tahu
aku rindu setengah mati

meski tlah lama kita tak bertemu
ku slalu memimpikan kamu
ku tak bisa hidup tanpamu

aku rindu setengah mati kepadamu
sungguh ku ingin kau tahu
ku tak bisa hidup tanpamu
aku rindu…

 

Udah itu aja lagu yg bisa bikin aku bahagia,,karna,,setiap aku sedih,aku bisa seneng kalo dengerin lagu”diatas,lagipula aku suka lagu”diatas  pernah dinyanyiin sama idola aku,,”MaRio Stevano”ato yg lebih kita kenal Rio Icil 3 yg keren itu,,makanya aku kasih fotonya sekalian sesuai lagu yg dibawain…

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Cinta Mati 3

***

 

 

cinta ini cinta yang tak perlu, mendapatkan balasan cinta

 

meski hatiku perih

 

menahan cinta yang terluka, cinta yang buatku bertahan

 

 

meski ada air mata

 

 

Lagu Mulan Jameela mengalun lagi di kamar Ify yang bernuansa Pink-Orange. Ify mengambil sebuah foto dari dompetnya, foto sang cinta mati yang sengaja ia cetak dan di simpan di dompetnya, Foto Rio.

 

 

Rio, seorang anggota Osis, sama dengan Ify. Rio bukan anak yang populer, tapi juga bukan anak yang tidak dikenal. Tidak mempunyai banyak fans, tapi tidak bisa dibilang
tidak punya fans. Dia disukai dengan caranya sendiri. Dan diam-diam, Ify
menyukainya, sejak pandangan pertama.

 

 

***

 

 

Hari itu telah dibuka pendaftaran anggota osis periode tahun 2010, yang berminat mengikuti tinggal mengambil formulir yang tersedia di depan ruang osis

 

 

Pulang sekolah, saat Ify hendak menarik selembar kertas formulir keluar, seseorang ikut menarik kertas formulir itu, Ify kaget,

 

 

”Ups. Sorry.” ujar orang itu.

 

 

”ga papa kok. Ambil duluan aja.” Ify mempersilakan, orang itu menggeleng

 

 

”ladies first.” kata orang itu lagi sambil tersenyum. Ify membalas senyuman itu,

 

 

”thanks.”

 

 

”you’re welcome. Eh gue Mario, biasa dipanggil Rio.”

 

 

”Alyssa, biasa dipanggil Ify.”

 

 

”oh… Kelas mana fy?”

 

 

”X-6. Kamu Yo?”

 

 

”x-1. Eh Fy, gue duluan ya! gue udah ditungguin.” Pamitnya, Ify mengangguk. Tapi hatinya sedikit kecewa, Rio menghampiri seorang cewek dan merangkulnya dengan mesra, Ify tau, nama cewek
itu Dea.

 

 

***

 

 

sudah 6 bulan sejak kejadian itu berlangsung, Rio dan Ify dekat walaupun hanya sebagai teman, terkadang Ify lah tempat berkeluh kesah Rio tentang percintaanya. Ify miris. Tapi Ify tetap bertahan dengan cintanya pada Rio,
meskipun hanya dia dan Tuhan yang tahu seberapa besar cinta Ify pada Rio.

 

 

”Ify! Ayo berangkat! Nanti telat!” suara Gabriel, kakak Ify terdengar dari arah garasi.

 

 

”iya Kak! Ify turun sekarang!” sahut Ify

 

 

setelah pamit ke mama dan papanya, Ify menaiki motor tiger Iyel. Dan Iyel pun melaju menuju sekolah tercinta mereka.

 

 

”Hey Fy. Kenape pagi-pagi udah cemberut?” Tanya Iyel melihat gelagat adiknya

 

 

”engga kenapa-napa kok kak…” jawab Ify. Iyel tersenyum

 

 

‘Ify masih ga mau cerita soal Rio’

 

 

Ya, Gabriel tahu bahwa Ify menyukai Rio. Gabriel selalu bisa menangkap sinar-sinar kebahagiaan di mata Ify jika sedang mengobrol dengan Rio di RO.

 

 

‘maaf kak, aku ga mau cerita dulu soal Rio, sebenarnya aku patah hati lagi untuk kedua kalinya, setelah tiga bulan yang lalu Rio putus sama Dea, sekarang dia jadian sama
Shilla.’ batin Ify

 

 

***

 

 

Ify makin kecewa saat melihat Rio dan Shilla bergandengan tangan saat mengantar Shilla ke kelasnya, Shilla adalah teman sebangku Ify. Tapi tampaknya kekecewaan itu tidak hanya menjadi miliknya,
tapi juga milik seorang gadis cantik yang juga menyukai Rio.

 

 

”kenapa Via? Aneh banget mimik lo.” canda Ify. Via hanya nyengir. Dan saat Shilla memasuki kelas, bibir Via kembali datar.

 

 

***

 

 

Ify berjalan lesu ke arah Ruang Osis

 

 

‘coba gue itu Shilla’

 

 

”Hey! Siang siang kok ngelamun? Nanti cantiknya ilang loh!” sebuah suara canda menggoda menhilangkan lamunan Ify. Ify tersenyum menatap sang pemilik suara

 

 

”kak Alvin juga siang-siang udah ngegombal! Nanti gantengnya ilang loh!” canda Ify. Ternyata reaksi Alvin tidak terduga

 

 

”Amit-amit Ya Tuhan!” Ujar Alvin sambil mengetok-ngetok kepalanya sendiri lalu tembok. Ify tertawa

 

 

”mau ke RO kak?”

 

 

”iya, yuk bareng. Cepetan mau ada rapat” Alvin menarik lengan Ify,

 

 

Deg! Jantung Ify berdebar lebih cepat, begitu pula dengan jantung Alvin. Alvin memang menyukai Ify sejak pertama kali berkunjung ke rumah Gabriel, sahabatnya.
Tapi ucapan Gabriel membuat Alvin
tidak terlalu menyimpan harapan Ify akan menyukainya juga,

 

 

”Vin, sebenernya gue setuju banget lo jadian sama Ify, apalagi kalo entar jadi adik ipar gue, tapi gue minta, jangan terlalu banyak berharap dulu, adik gue bener-bener cinta mati
sama seorang cowok, takutnya entar malah elo yang patah hati.”

 

 

Alvin masih mengingat jelas pembicaraannya dengan Gabriel seminggu lalu. Dan pembicaraan itulah yang mengurungkan niatnya untuk mengutarakan rasa sayangnya kepada Ify,

 

***

 

 

Alvin yang ketua MPK, duduk di depan Gabriel, yang adalah ketua Osis. Sementara Ify duduk di samping Gabriel. Berkali-kali Ify menghela nafas melihat Rio
yang asil smsan. ‘kayanya sama Shilla’

 

saking asiknya memperhatikan Rio, Ify tidak menyadari bahwa mata Alvin sejak tadi tertuju padanya.

 

 

‘jadi Rio, Fy?’

 

 

***

 

 

”Fy, gue masih ada urusan dulu. Lo pulang dianterin Alvin aja ya gapapa kan?” tanya Gabriel.

 

 

”Ify sih gapapa, tapi apa ga ngerepotin Kak Alvin?”

 

 

”Aku sih gapapa Fy, itung-itung jalan-jalan, apalagi bawa gadis cantik kaya kamu.” Ujar Alvin. Ify tersipu, Gabriel mencibir

 

 

”jangan gombal lo sama adek gue! Awas lo kalo adek gue pulang dalam keadaan ga utuh!”

 

 

”tenang yel, gue ga akan ngebiarin satu helai rambut sekalipun hilang dari Ify.” Ujarnya mantap.

 

 

***

 

 

Perasaan Ify hari ini gado-gado. Bingung atas perasaannya sendiri. Dia kecewa melihat Rio mesra dengan Shilla. Tapi juga senang diantar Alvin
pulang.

 

 

***

 

 

Ify dan Alvin menjadi lebih dekat lagi. Kalau Gabriel tidak bisa mengantar Ify pulang, Alvin yang menggantikannya, atau bahkan Alvin
dan Ify sengaja pulang bareng.

 

 

Tapi sampai saat ini, hati Ify masih tersimpan hanya untuk Rio. Ify masih mencintai Rio seperti dulu,

 

 

***

 

 

Hari ini genap 9 bulan Ify menyimpan hatinya hanya untuk Rio. Hari ini pula dia akan pergi bersama Alvin, ini kali pertamanya.

 

 

Ify yang hari ini menggunakan t-shirt warna putih polos dan rok vintage berwarna coklat bunga-bunga, dihiasi kalung panjang dan tas kulit kecil juga flatshoes simple
sudah menunggu di teras rumah, ditemani Gabriel.

 

 

Tak lama kemudian, sebuah swift putih berhenti di depan gerbang, sang pengendara yang kali ini memakai kemeja putih dengan tangan yang dilinting sampai ke sikut, di padu dengan rompi oxford warna coklat, celana
jeans dan sepatu kets, turun dari mobil, dan memasuki teras. Tampaknya semua
orang akan terpesona melihatnya, begitu pula Ify. Tapi dimatanya, Rio
masih lebih segala-galanya.

 

 

”ayo Fy.” ujar Alvin

 

 

”ayo.”

 

 

”eits tunggu dulu, Alvin inget ya Vin adek gue jangan sampe kurang sesuatu apa pun !”

 

 

”iya Kak Gabriel…” timpal Alvin, mencibir

 

 

”heuh… Udah sana pergi!” Gabriel pura-pura mengusir

 

 

”pergi dulu ya Kak!” Ify pamit, lalu mereka pun berangkat menuju tujuan pertama mereka, restoran di jalan Riau, bandung

 

 

oh mungkinkah kau yang jadi kekasih sejatiku….

 

 

Handphone Ify berdering, tanda ada sms masuk

 

 

From : Rio X-1

 

 

Ify🙂 tadi aku ngeliat kamu keluar rumah. Cantik deh🙂

 

 

Ify tersapu eh tersipu malu membaca sms dari Rio

 

 

To : Rio X-1

 

 

trims🙂 liat dmana?

 

 

From : Rio X-1

 

 

tadi ak krmh kmu, tpi ternyata kmunya pergi. Sma k’alvin ya?

 

 

To : Rio X-1

 

 

iya.

 

 

From : Rio X-1

 

 

ya udah , besok ngobrol ya di RO🙂

 

 

Ify senang sekali membaca sms dari Rio itu.

 

 

”kenapa kamu Fy senyam senyum sendiri?” tanya Alvin heran

 

 

”gapapa kok kak…” Ify tersenyum. Alvin juga tersenyum, walau agak pahit

 

 

‘Rio lagi ya, Fy? Apa cuma dia yang bisa bikin kamu bahagia?’

 

 

***

 

 

Pertama-tama, mereka pergi ke sebuah restauran. Karena udah jam 12 siang. Ternyata restauran yang dipilihkan Alvin ini benar-benar asik. Menunya disini makanan kesukaan Ify semua. Ify memutuskan tidak makan makanan yang berat.
Dia hanya ingin caesar salad dan lemon squash. Sementara Alvin memesan salad,
fettucini dan lemon soda. Alvin
memandang heran dengan pesanan Ify.

 

 

”cuma itu doang Fy?” Tanya Alvin tampak tidak percaya. Ify mengangguk

 

 

”Serius?” Ify mengangguk mantap

 

 

”pantesan badan kamu ceking gitu, udah mah mesen makanan orang diet, minumnya yang asem-asem lagi. Ckckck” Alvin berdecak heran

 

 

”lo mesen makanan berat dong Fy! Yayaya? Cobain Lamb chopnya deh Fy! Ya Ify ya?” Pinta Alvin setengah memaksa. Alvin ga tega
ngeliat Ify cuma makan caesar salad doang. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya
Ify setuju. Lagian siapa sih yang ga suka lamb chop?

 

 

Acara makan-makan mereka berlangsung menyenangkan. Bagi Ify, Alvin sudah seperti kakaknya sendiri.

 

 

***

 

 

Mereka melanjutkan perjalanan ke salah satu toko kado, katanya Alvin ingin membelikan sesuatu ke seorang cewek yang special di hatinya, dan Ify diminta memilihkan
kado. Ify sih setuju-setuju saja. Walau hatinya agak kecewa.

 

 

‘Berarti Kak Alvin sudah punya someone special.. Loh kok? Kenapa juga harus kecewa Fy?’

 

 

di toko kado itu, mata Alvin selalu memandang kemana mata Ify melihat. Sampai akhirnya mata Ify tidak lepas memandang sebuah miniatur grand piano yang berwarna putih. Ify mengambilnya,
lalu menekan tuts pianonya,

 

 

tiba-tiba bagian atas piano itu terbuka, dan sebuah lagu terdengar mengalun. bersamaan dengan lagu itu muncul sebuah figura kecil berbentuk hati. Ify tersenyum. Lucu banget.

 

 

”Lucu ya Fy?”

 

 

”Iya. Kenapa ga ngasih ini aja?” Tawar Ify. Alvin terkejut.

 

 

”gapapa Fy? Bukannya kamu suka banget sama ini?”

 

 

”gapapalah.. Jarang loh kak nemuin barang lucu kaya gini. ” Ify lalu menyerahkan miniatur piano itu ke tangan Alvin

 

 

”thanks ya.”

 

 

Alvin lalu membayar miniatur itu dan meminta pramuniaga membungkusnya. Kado itu terkemas cantik dalam kotak berwarna pink-orange dengan pita yang senada. Ify tersenyum

 

 

”cewek itu beruntung banget ya Kak Alvin.” Ujar Ify tanpa mengalihkan pandangannya dari kado tersebut. Alvin tersenyum

 

 

”dia memang cewek yang beruntung.”

 

 

***

 

 

Keesokan harinya, tanggal 6 desember.

 

 

Hari ini Ulang Tahun Ify. Dan Rio bilang Rio ingin berbicara dengannya hari ini. Dan Ify tau, Rio baru putus dengan Shilla. Apakah Rio akan menembaknya hari ini di hari jadinya
yang ke 17 ? Entahlah. Tapi Ify harap hal ini akan terjadi.

 

 

Pulang sekolah @ RO.

 

 

Ify sudah dikerjain habis-habisan sama teman-teman sekelasnya, lalu dia ngabrit ke RO. Setelah istirahat sejenak, Rio lalu mulai mengobrol dengan Ify.

 

 

”Eh Fy, happy birthday lo. Sweet seventeen ya?” Ujar Rio. Ify mengangguk

 

 

”aku mau berbagi cerita bahagia sama kamu Fy!” Kata Rio lagi

 

 

”apa?”

 

 

”aku pengen jadian sama Via! Kira-kira kalau aku tembak dia bakal diterima ga ya? ”

 

 

 

 

 

 

~~~~~~~~siiiiiiiiiiiingh

 

 

hati ify hancur untuk yang ketiga kalinya.

 

 

‘ya Tuhan. Apa aku salah selama ini cinta sama Rio? Kenapa cuma sakit yang aku dapatkan?’

 

 

”Fy? Lo ga papa kan? Hello Ify??” Rio mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Ify.

 

 

”Fy??”

 

 

”Sorry Yo. Gue pulang dulu.”

 

 

Ify berlari meninggalkan Ruang Osis. Segera menuju ke rumahnya.

 

 

***

 

 

Cklek! Ify membuka pintu depan rumahnya. Betapa terkejutnya Ify ketika dia menendang sebuah kotak. Warnanya pink-orange dengan pita senada. Ify sangat mengenal kotak itu. Tapi ternyata ada sebuah kartu ucapan tertempel
di tutup kotak itu.

 

 

Ify duduk sambil memegangi kado dan kartu ucapan. Lalu mulai membacanya.

 

 

Selamat Ulang Tahun yang ke 17, Ify!

 

 

Semoga kamu mendapatkan kebahagian dalam hidupmu selalu.

 

 

Satu hal yang perlu kau tahu,

 

 

cewek kamu anggap beruntung itu, adalah kamu sendiri.

 

 

Ify tercengang saat membacanya. Terlebih lagi saat membuka kadonya. Miniatur Grand Piano yang berwarna Putih. Dan di dalamnya, fotonya dan Alvin terbingkai dalam figura
berbentuk hati Selama ini Alvin
menganggapnya spesial? Dan Ify tidak pernah menyadarinya? Kenapa?

 

 

Karena dia menganggap Rio lebih special.

 

 

Ify berlari ke kamar Gabriel

 

 

tok tok tok!

 

 

”masuk!”

 

 

”kak Gabriel! Kenapa engga…” ucapan Ify terhenti saat mengetahui ada seseorang selain Gabriel di dalam kamarnya. Alvin

 

 

”kenapa engga apa?” Gabriel balik tanya. Alvin tersenyum.

 

 

”selamat ultah ya Fy. Udah liat kadonya?” Tanya Alvin manis. Ify mengangguk pelan. Dia merasa pipinya memerah.

 

 

”suka?”

 

 

Lagi-lagi Ify mengangguk.

 

 

”ehm ehm… Udah pake ‘bola langsung’ ini teh?” goda Gabriel. Alvin cengengesan.

 

 

”ya udah hajar aja!”

 

 

Alvin tersenyum mendengar Gabriel berkata seperti itu. Kemudian dia mendekati Ify yang masih berdiri di depan pintu kamar Gabriel.

 

 

”Ify, kamu cewek spesial di hati aku sampai kapanpun. Walaupun mungkin di hati kamu cuma ada Rio.”

 

 

”tapi Fy, mau ga kamu ngasih aku kesempatan sekaliiii aja buat menjadi pemilik hati kamu?”

 

 

Gabriel tersenyum-senyum sendiri. Sambil berharap Ify akan menerima Alvin.

 

 

Sementara Ify bingung. Hatinya masih untuk Rio… Tapi, Rio sudah sering menyakitinya. Sementara Alvin, teman kakaknya ini sudah sangat baik terhadapnya.

 

 

Pelan-pelan, Ify mengangguk.

 

 

Alvin tersenyum lebar, tampaknya dia bisa terbang saat ini juga. Sementara Gabriel teriak-teriak ga jelas.

 

 

”yeeaaaaah!!!”

 

 

Ify dan Alvin tersenyum melihat tingkah gabriel.

 

 

***

 

 

”Ify, kamu beneran jadian sama Kak Alvin?” tanya Rio saat Ify masuk ke RO.

 

 

”udah sebulan yang lalu kali. Kamu kemana aja Yo?”

 

 

Rio terdiam di kursi RO saat mendengar kalimat Ify barusan.

 

 

‘kenapa perasaan gue aneh gini?’

 

 

melihat Rio yang terdiam, Gabriel menghampirinya

 

 

”weyy! Ngelamun aje cuy!”

 

 

”eh Kak Gabriel. Engga kok ga ngelamun.” Rio berusaha mengelak. Gabriel tersenyum

 

 

”tau ga Yo, selama ini Ify cinta mati sama lo. Cuma elo yang bisa buat Ify nangis tiap malem. Cuma elo yang bisa ngebutain hati Ify. Dia selalu nunggu lo.”

 

 

”tapi lo ga pernah sadar akan hal itu Yo. Kalau pun sekarang lo sadar, lo udah terlambat. Karena sekarang Ify udah menjadi milik Alvin. Cowok yang udah seharusnya memiliki Ify.”

 

 

Gabriel meninggalkan Rio sendiri di ruang Osis. Rio meratapi nasibnya.

 

 

‘padahal Ify baik, padahal Ify selalu ada buat gue, selalu dengerin gue, arrrgh!’

 

 

Ify yang berada tepat di luar ruang osis melihat Rio mengacak-acak rambutnya sendiri. Terlihat kesal.

 

 

kamu takkan pernah mendapatkan cinta

 

cinta seperti yang aku berikan kepada kamu

 

kamu nanti pasti kanmenyadarinya

 

saat aku tak lagi ada

 

 

kamu takkan pernah tau betapa aku

 

memuja kamu seperti ku memuja dewa cinta

 

kamu nanti pasti kanmenyadarinya

 

saat aku tak lagi ada

 

 

Lagu yang sedang didengarkan Ify dari iPodnya adalah cinta mati 3. Ify tersenyum. Rio akan tetap ada di hatinya. Tapi kini, cinta Ify sepenuhnya hanya untuk Alvin.

 

 

 

‘akhirnya kamu sadar Yo… Kamu sadar kalau aku mencintaimu… Tapi maaf Yo… Hatiku tak lagi ada untukmu’

 

 

***

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar