Cinta Dalam Hati

Rio adalah seorang remaja yang memiliki banyak bakat, di antaranya bermain
basket dan bernyanyi. Dia juga baik dalam pelajaran. Ia memiliki banyak teman,
ia seolah memiliki semua yang diinginkannya. Namun semua itu berakhir ketika
sesuatu terjadi.

Dokter memvonis Rio kena leukimia yang sudah tidak dapat ditolong lagi dan
diperkirakan hidupnya tinggal 3 bulan. Setelah mendengar kabar itu, Rio seolah
kehilangan semuanya. Sebenarnya ia tidak kehilangan semuanya, ia hanya
kehilangan satu, yaitu semangat hidupnya.

Suatu hari datanglah kelompok dari suatu yayasan yang biasanya mendoakan tiap
pasien di rumah sakit. Rio tidak tau pasti orang-orang menyebut mereka apa,
tapi ia menyebut mereka, tapi ia menyebut mereka Kelompok Doa.
Nggak ada gunanya…toh, bentar lagi juga aku mati….batinnya.
Tapi tanpa diduga ternyata salah seorang anggota dari kelompok itu membawa anak
perempuannya. Anak perempuan itu cantik sekali. Rio serasa akan mati sekarang
karena ia didatangi malaikat pencabut nyawa yang sangat menawan.

“Tunggu!”kata Rio saat gadis itu akan pulang.
“Nnng, siapa namamu?”tanya Rio. Gadis itu tersenyum.
“Sivia. Namaku Sivia. Namamu?”tanyanya ramah.
“Rio.”kata Rio. “Ehm, apa besok kamu akan ke sini
lagi?”tanya Rio dengan perasaan berharap.
Sivia terdiam, lalu tersenyum manis.
“Ya, pasti. Besok aku akan ke sini lagi.”

Benar saja, besoknya Sivia datang sendirian. Ia masih mengenakan seragam.
“Eh, kamu anak sekolahku ya?”tebak Rio.
“Masa sih?”
“Iya, ah, seragammu itu seragam sekolahku. Kamu kelas berapa?”tanya
Rio.
“Kelas 7-3.”jawab Sivia.
“Oooo…pantes, aku kan kelas 7-1…”kata Rio sambil manggut-manggut.
Sivia senyum-senyum.
“Kita main basket yuk! Kebetulan di luar ada ring basket!”
“Hah? Basket?”
“Iya, kata mamamu kamu jago basket!”kata Sivia.
Rio terdiam sejenak. Sejak divonis, ia tak pernah mengingat bakatnya itu.
“Oke deh!”

SRAAAKK!!
“Wah, Rio, kamu benar hebat!”kata Sivia.
“Iya, dong, Rio!”kata Rio sambil bergaya bak supermodel.
“Hahahaa, kamu lucu ya! Hehee..”kata Sivia sambil menunjukkan senyuman
khasnya. Senyum kesukaan Rio.
“Eh, Rio…nnng, bukannya bermaksud apa-apa, aku cuma mau bilang…”
“Apa?”
“…kamu masih beruntung, kamu memiliki waktu 3 bulan untuk menikmati
dunia. Jadi kusarankan saja, kamu tidak menyia-nyiakannya. Nikmatilah dunia
dalam waktu 3 bulan.”kata Sivia sambil menatap Rio lekat-lekat.
Rio terdiam.
“Tapi sebentar lagi aku akan mati. Kalau aku mati…semua yang sudah
kulakukan di dunia seakan tidak ada gunanya lagi! Toh, nanti aku akan tinggal
nama saja!”kata Rio dengan mata memerah menahan air mata.
“Semua manusia akan mati, Yo. Aku pun akan mati. Kita tidak tau kapan
saja.”
“Tapi aku kan sudah tau!!”
“Tak penting jika kau tau. Yang penting adalah yang kau lakukan dalam sisa
hidupmu.”kata Sivia lembut. Rio terdiam, menunduk.
“Hei.”Sivia meraba rambut Rio.
“Yo, teman-temanmu pasti merindukanmu. Jika kau tiba-tiba saja menghilang
begitu, mereka makin rindu, dan menyesal tidak menghabiskan waktu mereka
bersamamu. Mereka pasti akan sangat sedih. Kamu mau mereka sedih?”
Rio menggeleng pelan. Sivia tersenyum.
“Terus terang, jika kamu tetap tidak mau bertemu teman-temanmu, aku
bersyukur bisa menghabiskan waktu denganmu. Tapi jika kau mau, datanglah ke
sekolah besok.”kata Sivia, tersenyum, dan pergi.

Sivia duduk di kursi temannya, Zahra. Ketika Zahra tiba, ia sedikit kaget Sivia
ada di kursinya.
“Lo, Siv kamu pindah kelas? Ini kelas 7-3 kan?”sapa Zahra.
“Oh ya? Wah, aku salah masuk.”kata Sivia dengan wajah senyum.
“Ah, wajahmu menunjukkan kau sengaja! Hayo, kok masuk-masuk! Dilarang
melebihi batas wilayah kekuasaan!”kata Zahra bak seorang kapiten.
“Ah, gak apa dong. Aku kan cuma liat-liat.”kata Sivia sambil manyun.
“Iya, iya.”
KREKK….
Terdengar pintu terbuka, dan Sivia melihat wajah seseorang yang familiar di
matanya.
“RIOOOO!!”teriak seorang cowok berpostur tubuh imut di dekat pintu.
“Wuaaa…kamu ke mana ajaaa!? Aku kangen di sini
tauuu…huhuhuhu…”kata si cowok mungil.
“Sabar dong, Ozy….kamu nggak akan menciumku kan?”goda Rio dengan
wajah merayu.
“Nggak! Amit-amit!”kata Ozy sambil melepaskan pelukannya dari Rio,
lalu menghapus air matanya.
“Idih, Ozy gitu aja nangis. Kalo nangis pagi-pagi nanti pusing
loh.”kata Rio. Lalu seseorang merangkulnya dari belakang.
“Ke mana aja sih? Tim basket pada kelimpungan tau, nyariin kamu.”kata
si cowok.
“Alvin…”gumam Rio.
“Hei, Rio! Selama kamu gak ada Ozy murung melulu lho! Katanya gak ada
partner lawaknya!”kata Keke. Yah, RiOzy memang dikenal sebagai duo lawak.
“Yaaaa…karena itu saya sepi job.”kata si Ozy dengan wajah memelas.
“Tapi sekarang gak lagi! Saya rame job! Mari kita berkarya!”kata Ozy
sambil menarik tangan kanan Rio.
“Nggak! Rio mesti ngajarin aku matematik dulu!”kata Lintar sambil
menarik tangan kiri Rio.
“Heeei….di sini para fans Rio udah lama gak denger Rio nyanyi! Ayo nyanyi
dulu!”teriak Dea dan Keke sambil menarik-narik kerah baju Rio.
Rio tersenyum geli dan membiarkan teman-temannya menarik-narik dia. Lalu ia
melepaskan diri dari semuanya.
“Oke, oke, sipp….tapi sekarang, basket dulu dong!!”kata Rio dengan
sambutan sorakan “yaaah”dari teman-temannya.
Rio melirik ke arah Sivia. Sivia tersenyum penuh arti. Rio mendatangi Sivia.
“Ternyata kamu bener…”bisiknya ke Sivia.
“Tuh, kan, kangen mereka.”kata Sivia sambil tersenyum.
“IDIH!! SIVIA MA RIO ADA APA YA!! KOK CIUMAN!”teriak Ozy.
“Ngawur ah, aku bisik-bisik kok!”
“Bisik apa? I loph yuuuuu….”goda Nyopon, dengan sambutan
“cieee”dari teman-teman sekelasnya.
“Idih! Kalian usil ah! Eh, sori ya, Siv…”
“Nggak pa-pa kok…”

Akhirnya Rio menikmati sisa hidupnya tanpa menceritakan pada teman-temannya
soal penyakitnya. Ia pun semakin dekat dengan Sivia, tanpa sadar ia telah jatuh
cinta pada Sivia. Tapi saat menyadari perasaannya pada Sivia itu, hidupnya
hanya tinggal 1 minggu.
“Halo, Yo? Anu…aku ada les nih, kayaknya gak bisa dateng ke rumahmu hari
ini.”kata Sivia di telepon.
“Eh? Oh,ya…”
Lalu telepon ditutup.
Entah kenapa Rio merasa ada apa-apa dengan Sivia. Ia tidak dapat meninggalkan
Sivia.
Ah, aku terlalu overprotektif, dia pasti tidak apa-apa!batin Rio lalu
merebahkan diri dan tidur.

Ciittttt…BRAAAAKKK!!!
Rio menatap tubuh yang sudah tidak bernyawa itu. Ia memeluk tubuh itu.
“SIVIAAA…”teriak Rio, lalu terbangun.
“Hhhh….mimpi….”kata Rio terengah-engah. Ia merasa khawatir
sekali. Lalu ia membuka pintu kamarnya dan pergi meninggalkan rumah.

Di tepi jalan raya, Rio melihat ke arah seorang gadis. Sivia! Tapi….dalam
beberapa meter ada mobil berjalan ugal-ugalan ke arah Sivia dan dalam beberapa
menit akan menabraknya. Rio mengalami perang batin. Ia harus memilih, hidup
Sivia atau hidupnya yang tinggal 1 minggu….

Ambulans dan mobil polisi berseliweran di sana. Sekerumunan orang-orang ikut
menangis bersama sang gadis. Beberapa orang menyuruh anggota medis untuk
mengangkat orang itu, tetapi mereka menggeleng. Seperti nya nyawanya sudah
tidak dapat diselamatkan lagi.
“Riooo…Rio…jangan pergi Riooo…”isak Sivia sambil memeluk tubuh
Rio.
“Hhh…Siviaa…”gumam Rio.
“Riooo…Rio, kamu jangan pergi…aku gak mau kehilangan kamu…”kata
Sivia sambil terus menangis.
“Sivia…jangan nangis…aku…mau bilang sesuatu…”Lalu ia memeluk
Sivia.

“Aku sayang kamu…”

“Aku juga Rio..aku sadar aku sangat menyayangimu..tolong jangan tinggalkan
aku sendiri…”kata Sivia.

“Maaf ya…Sivia…bye-bye…”Rio tersenyum kecil, lalu menutup
matanya.

“Hikss..RIOOOOO!!!”

Ku ingin kau tau
Diriku di sini
Menanti dirimu
Meski kutunggu hingga ujung waktuku
Dan berharap rasa ini abadi untuk selamanya
Dan ijinkan aku memeluk dirimu skali ini saja
Kuucapkan selamat tinggal untuk selamanya
Dan berharap rasa ini bahagia untuk sekejap saja…

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s