Rindukan Dirimu

MARIO STEVANO ADITYA HALING, seorang penyanyi yang saat ini tengah berada diambang popularitas. Dengan umur yang relatif muda, ia telah berulang kali meluncurkan album yang laris terjual di pasaran. Bahkan hampir setiap hari, ia selalu dibanjiri berbagai job manggung di sana-sini. Tak heran jika ia berhasil menyandang status sebagai penyanyi papan atas yang dielu-elukan oleh banyak orang.

Namun, bagaimana jika ternyata sang bintang sama sekali tidak menikmati hidupnya yang nyaris sempurna itu?

Terkadang ia merasa jenuh pada kehidupannya saat ini. Ia terlalu lelah harus menghabiskan sebagian waktunya hanya untuk bekerja, bekerja, dan bekerja. Ia juga terlalu lelah berdiam diri di rumah jika tidak ada job. Terlebih lagi, ketika ia harus diiringi bodyguard tiap jalan-jalan ke tempat umum. Sungguh bukan itu yang selama ini ia harapkan. Jauh dalam hati kecilnya, ia ingin kembali ke masa sebelum ia menjadi seorang bintang. Masa dimana ia bisa hidup bebas tanpa merasa terkekang seperti ini.

Rio mengendarai Jaguar hitamnya, menyusuri jalanan di setiap sudut kota. Tiap hari santai dimana tidak ada jadwal manggung, ia selalu menyempatkan diri keliling kota dengan mobil kesayangannya tersebut. Ya, hitung-hitung untuk sedikit menyegarkan pikiran. Meski ia hanya dapat disuguhi pemandangan kota yang dipenuhi asap polusi, tapi setidaknya ia merasa sedikit lega karena tidak terus-terusan terkurung di dalam rumah.

Ia menghentikan laju mobilnya ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Sambil menunggu lampu hijau menyala, ia pun menyapu pandangan ke sekitar. Lelaki itu mendesis lemah saat melihat spanduk besar bergambar wajahnya─ terpampang di ujung jalan. Di spanduk itu tertera tanggal manggung Rio berikutnya. Entah mengapa, ia merasa kesal sendiri jika harus melihat pengumuman itu. Bahkan pernah terbesit sebuah pikiran di benaknya, untuk membatalkan job manggung tersebut.

Lelaki itu pun berusaha mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Hingga kemudian, kedua matanya terpusat pada sesosok gadis berpayung yang tengah berdiri di pinggir jalan. Payung? Rio menautkan kedua alisnya dan mendongak ke arah langit. Langit sangat cerah. Bahkan setitik awan hitam sama sekali tak menampakkan diri.

“Ck, gadis yang aneh,” batin Rio seraya tersenyum geli.

Diiiin… Suara klakson yang berasal dari mobil di belakangnya, membuat Rio terlonjak kaget. Setelah sadar bahwa lampu hijau telah menyala, ia pun segera bersiap menginjak gas. Namun baru saja ia hendak menjalankan laju mobil, tiba-tiba gadis berpayung itu berlari di depan mobilnya. Spontan, ia pun langsung mengerem mobilnya, “Shit!” umpatnya kesal. “Apa-apaan sih dia?”

Dan begitulah. Gara-gara ulah gadis berpayung itu, mood Rio mendadak jadi jelek. Bagaimana tidak? Kalau saja tadi dia tidak ngerem mendadak, bisa-bisa dia sudah berada di penjara saat ini. Seorang Rio masuk penjara dengan tuduhan menabrak orang? Oh, tentu saja bukan itu yang ia harapkan masuk menjadi berita utama. Alhasil, lelaki itu pun memutuskan untuk langsung pulang ke rumah saja.

Setibanya di rumah, betapa terkejutnya ia ketika melihat gadis berpayung yang ditemuinya tadi, sedang berdiri di depan rumahnya.

Rio heran. Ia terus memperhatikan gadis itu dari dalam mobil. Hingga tiba-tiba gadis itu menyadari kehadiran Rio, dan menoleh ke arahnya. Raut terkejut terpeta jelas dalam wajah si gadis. Gadis itu langsung berbalik dan beranjak pergi dari tempatnya berdiri semula.

“Hei, tunggu!” Entah mengapa tiba-tiba Rio refleks berteriak. Tanpa pikir panjang, Rio pun turun dari mobil dan secepat kilat mengikuti langkah gadis berpayung tersebut. Ia tidak mungkin menggunakan mobil, karena gadis yang sedang dikejarnya itu mengambil jalan sempit yang tidak mungkin dilalui mobil.

Rio menghentikan langkahnya, ketika menyadari gadis itu telah masuk ke dalam sebuah rumah. Rio terdiam. Ia masih ragu untuk masuk ke dalam rumah itu atau tidak. Mengingat jika ia sama sekali tidak mengenal gadis itu. Bisa-bisa ia dituduh hendak mencuri. Hei! Mengapa dari tadi pikiranku berbau kriminal melulu, batin Rio dalam hati.

“Aneh. Kenapa juga aku harus ngikutin dia?” tanyanya pelan. Ia pun menghela nafas berat dan memutuskan untuk berbalik. Namun suara pintu berdecit yang berasal dari rumah tersebut, membuat Rio mengurungkan niatnya.

Seorang wanita paruh baya berdiri di ambang pintu dengan garis muka terkejut. “Rio? Kamu Rio, kan?”

Rio mengangguk pelan seraya menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Dalam hati ia merutuk nasibnya. Ia lupa memakai penyamaran topi dan kaca matanya ketika harus berada di tempat umum seperti ini. “Maaf, saya tadi kebetulan lewat.” Rio terdiam sejenak. Ia terlihat menimang-nimang sesuatu, “Uhm, barusan saya lihat putri ibu masuk. Boleh saya bertemu?”

Wanita itu tampak sangat terkejut. Lebih terkejut dari reaksinya ketika melihat Rio tadi. Guratan tidak percaya menyembul di air muka wanita tersebut. Namun sedetik kemudian, ia pun mengangguk dan memperbolehkan Rio masuk. Wanita itu kemudian mengantar Rio menuju sebuah ruangan.

Rio memperhatikan isi ruangan itu. Ruangan yang gelap namun tampak tertata rapi. “Ini kamarnya.” Wanita tersebut menjelaskan seraya menyibak tirai. Sinar mentari pun tak segan-segan memberikan sinar hangat untuk kamar tersebut.

Rio terkesiap ketika pandangannya bersirobok dengan sebuah lemari kaca di sudut ruangan. Lemari itu penuh dengan berbagai bingkai foto yang berisi foto dirinya. Ia pun mengambil salah satu foto dari lemari tersebut. Foto itu memperlihatkan seorang gadis yang tengah borpose seraya memamerkan sebuah kaset album pertama Rio.

“Namanya Keke. Sejak melihatmu pertama kali di layar TV, dia begitu mengidolakanmu.” wanita itu mulai bercerita dengan tatapan sendu. Bahkan ada kegetiran dalam nada suaranya.

Rio memandang lagi foto yang sedang dipegangnya. Tiba-tiba ia menyadari sesuatu yang janggal. Ia bingung mengapa wanita itu tidak langsung mempertemukannya dengan gadis itu, tapi malah justru bercerita bahwa gadis itu adalah penggemar beratnya. Ingin ia menanyakan perihal yang membuatnya tidak mengerti. Namun ia segan.

“Keke gadis yang sangat keras kepala. Demi ingin bertemu denganmu, dia bahkan nekat kabur hanya untuk menonton konsermu. Padahal saat itu, kami sudah berusaha mencegahnya. Fisiknya sangat lemah. Tapi ia bersikeras untuk tetap menonton konsermu.” Bulir-bulir air mulai berkumpul di pelupuk mata wanita anggun tersebut.

Rio memilih bertahan dalam kediamannya. Selebihnya karena ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia sendiri sama sekali tidak dapat mencerna topik pembicaraan wanita di hadapannya.

“Saat itu, kami lalai menjaganya. Kami nggak sadar kalau dia kabur dari rumah sakit untuk menonton konsermu. Hingga beberapa saat kemudian, kami mendapat kabar… bahwa dia… dia…” Wanita itu menutup mulut. Isakan kecil mulai terdengar dari bibir merahnya. Air mata yang sedari tadi terlihat dibendungnya, mulai jatuh satu persatu.

Rio berusaha mendekati wanita itu─berniat untuk menenangkannya. Meskipun ia masih belum mengerti arah pembicaraan ini. Namun, tangannya mendadak beku ketika wanita tersebut melanjutkan ucapannya. Sebuah pernyataan yang begitu menghujam jantungnya. Dan membuatnya mengerti tentang semua yang terjadi.

“…Dia kecelakaan, dan meninggal.”

Gerimis itu mulai menderas. Menapak tanah basah dibawahnya. Disinilah, Rio. Terduduk termenung dengan perasaan campur aduk. Tak ia hiraukan rintik hujan yang membasahi tubuhnya. Kedua matanya terus terpaku pada sebuah pusara─tempat Keke beristirahat untuk selamanya. Otaknya terus memberontak. ‘Jadi yang tadi kulihat itu apa…?’

Semua cerita wanita itu terus berdengung di telinganya. Saat itu hujan turun dengan lebat. Mungkin karena gadis itu tidak ingin terlambat untuk menonton konser tunggal Rio, ia tergesa-gesa menyeberang jalan ketika lampu hijau sudah menyala. Dan hasilnya naas. Sebuah mobil menabraknya. Gadis itu terpental beberapa meter─membentur trotoar. Gadis itu pun meninggal seketika di tempat itu juga.

Rio mengingat pertama kali ia melihat gadis itu di jalan. Jalan itu adalah jalan dimana gadis tersebut kecelakaan. Ia sempat menyesal telah mengumpat gadis itu saat menyeberang di lampu hijau. Ia juga menyesal telah menyebut gadis berpayung itu aneh. Sekarang ia mengerti mengapa gadis itu memakai payung.

“Hari ini tepat satu tahun sejak kepergiannya. Mungkin dia menampakkan diri supaya kamu bisa menyadari keberadaannya.”

Kata-kata dari Ibunda Keke terngiang lagi di telinga Rio. Ia begitu tidak menyangka bahwa diluar sana ada seseorang yang rela mempertaruhkan apa saja demi menontonnya. Padahal saat itu jelas-jelas Keke sedang dalam keadaan sakit. Namun gadis itu tetap bersikeras menonton konsernya. Jika mengingat sikapnya yang acuh pada hal-hal yang menyangkut populer, ia merasa begitu tertohok.

“Maaf… Maaf… Maaf…”

Hanya itulah kata yang keluar dari bibir Rio. Selanjutnya, ia hanya dapat terisak. Membiarkan air matanya meleleh turun.

“Rio berterima kasih banget, buat semua RISE yang udah nyempetin datang kesini. Satu lagu persembahan dari Rio. Spesial Rio tujukan untuk semua RISE yang telah mendukung Rio hingga Rio menjadi seperti ini.” Rio menatap ratusan orang yang hadir di hadapannya. Senyum lembut tersungging di ujung bibirnya, “Rio sayang kalian semua.”

Rio pun mulai memetik gitar. Mengumandangkan sebuah lagu yang ia ciptakan khusus untuk seluruh penggemarnya. Sebuah lagu berisi rasa rindu pada RISE atas ketidak peduliannya selama ini. Terutama Keke, seorang RISE yang telah menginspirasi hidupnya menjadi lebih baik.

Berjanjilah wahai RISE semua,
Bila kau tinggalkan aku, tetaplah tersenyum.
Meski hati sedih dan menangis.
Kuingin kau tetap tabah menghadapinya.
Bila kau harus pergi meninggalkan diriku,
Jangan lupakan aku.
Semoga dirimu disana kan baik-baik saja.
Untuk selamanya…
Disini aku kan selalu rindukan dirimu.
Wahai RISE semua…
Rindukan Dirimu…

Tiba-tiba secara samar kedua mata bening Rio menangkap seorang gadis berambut sebahu yang menontonnya di barisan paling belakang. Gadis itu tampat sangat bahagia. Senyum manis tak henti-hentinya merekah di sudut bibirnya.

Rio sempat tertegun menatap gadis itu. Entah hanya semacam delusi atau apa, namun ia merasa bayangan itu sangat terlihat nyata. Ia pun turut tersenyum. Senyum tulus yang ditujukannya pada gadis itu.

‘Terima kasih, Keke…’

Berkat Keke-lah saat ini ia sadar akan arti seorang penggemar. Mulai sekarang, ia juga akan bertekad satu hal. Bahwa ia akan melakukan apa saja demi penggemarnya. Ia tidak akan menuntut dan keluar dari dunia musik. Ia juga tidak akan mengeluh untuk manggung disana-sini. Ia akan belajar untuk menjadi seorang bintang yang bersinar terang di hati semua orang.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s