Tentang Aku,Kamu,Dia dan Mereka,,Terkadang Jujur memang menyakitkan,,

Alvin cemburu melihat Dea berduaan dengan Rio. Dia membuat Rio babak belur, lalu mengajaknya bertanding basket untuk memperebutkan Dea. Rio menyanggupinya. Sampai akhirnya… Rio lah yang menang. Bagaimana dengan Alvin? Terus, siapa akhirnya yang bersama Dea?

***

Saat mendengar pengumuman pemenang tadi, orang yang pertama kali Rio lihat adalah Dea. Dilihatnya Dea juga sedang balas menatapnya. Saat pandangan mereka bertemu, Dea tersenyum lalu mengacungkan jempolnya. Rio balas tersenyum. Dia berlari menghampiri teman-temannya yang berada di antara kerumunan penonton.

“Selamat ya Yo. Yaa.. walaupun sekolah gue kalah, tapi lo bener-bener hebat tadi mainnya. Lo gak malu-maluin gue sebagai sepupu lo.” Zevana yang pertama kali berdiri dan menyalami Rio. Rio tersenyum, lalu membalas jabatan tangan Zevana.

“Kamu hebat Yo.” kata Nova. Dia menyalami Rio. Lintar mengangguk setuju, lalu ikut menyalami Rio. Rio tersenyum pada mereka berdua.

“RIOOO! Sumpah deh Yo, walaupun gue rada aneh ngucapin ini, tapi LO KEREN BANGET tadi!” teriak Ozy tiba-tiba, lalu memeluk Rio. Rio langsung berusaha melepaskan pelukan Ozy.

“Zy, gue tau tadi gue emang keren. Dan emang dari dulu juga gue udah keren. Tapi bisa gak sih gak usah peluk-peluk? Gue ini cowo normal dan masih menjunjung tinggi ke-lakilaki-an gue!” kata Rio. Ozy merengut, sedangkan yang lain tertawa.

“Ngg.. Yo.” Dea berbicara di tengah tawa anak-anak lain. “Selamat ya. Kamu emang pantes jadi juara.” katanya. Dia ikut menyalami Rio. Tapi kenapa gue gak bisa jadi juara di hati lo De? kata Rio dalam hati.

“Oke, sekarang saatnya pengumuman untuk juara MVP.Sudah bisa ditebak, pemenangnya adalah… Mario Stevano,dari Tim SMP Negeri 2 Tondano!”

Semua anak yang masih berada di lapangan bersorak. Rio turun dari bangku penonton, lalu menuju atas panggung untuk menerima medali. Beberapa teman cewek memberi nya tepuk tangan heboh. Rio naik ke atas panggung sambil tersenyum. Juara dan MVP ada ditangannya, dan dia memenangkan pertandingan. Semua itu seperti mimpi untuk Rio.

Setelah pemberian medali dan pembagian hadiah, Rio turun. Dilihatnya hanya ada Dea di bawah panggung. Yang lainnya pergi entah kemana.

“Ciee.. Yang medalinya bagus.” kata Dea. Mereka tertawa kecil.

Tiba-tiba Rio melepaskan medalinya, lalu mengalungkannya di leher Dea. Dea terkesiap. Rio sendiri tidak tau darimana dia mendapat keberanian untuk melakukan itu. “De…. Sebenernya, gue…” Rio berkata dengan terbata-bata.

Tidak ada yang berbicara. Bahkan tidak ada yang punya niat untuk memotong ucapan Rio. Itu semua malah membuat Rio semakin kesulitan untuk melanjutkan kalimatnya.

“Gue menangin pertandingan ini…. Buat lo, De.” kata Rio. Dea tersentak. Beberapa lama, suasana hening. Tanpa sadar, akhirnya tinggallah Rio dan Dea berdua di lapangan. Teman-teman mereka lenyap entah kemana, bahkan bayangan merekapun tidak terlihat.

“Saat indah yang kulalui bersamamu
Melukiskan kisah cinta di dalam lubuk hati
Terbuai nafas cinta yang kau hembuskan
Sampai mati ku takkan bisa melupakanmu…

Dea menatap Rio tidak percaya. Tangannya menggenggam medali yang dikalungkan Rio dilehernya itu erat. Rio tidak peduli dengan kehebohan yang terjadi, dan terus melanjutkan nyanyiannya.

Harus ku akui..
Aku sayang kamu, aku cinta kamu..
Oh hanya pada dirimu..
Kuingin kau mampu, terima hatiku…

Dengan segenap kekuatannya, Rio menatap mata Dea dalam-dalam. Dea masih menatapnya tidak percaya. “Terima akan cintaku..” lanjutnya, lalu menunduk. Dalam hati dia menyesal karena telah melakukan hal tadi. Harusnya tidak secepat ini. Tapi, ya.. Walaupun mungkin terdengar kekanak-kanakan, Rio takut kehilangan Dea jika dia tidak segera melakukan ini semua.

“Mm.. Maaf Yo..” kata Dea memecah keheningan. Rio mengangkat wajahnya. “…tapi, aku gak bisa…” katanya lagi. Rio langsung lemas seketika. “…aku belum putus dari Alvin..”

Setelah itu, tidak ada lagi di antara mereka yang berani memulai pembicaraan. Dea menggigit bibirnya. Apakah ini semua keputusan yang tepat? Menolak Rio? Tapi… Kalo Dea menerima Rio, tandanya sama aja dia menyakiti Alvin.

“Gapapa kok De.” tiba-tiba, Alvin muncul dari belakang Dea dan Rio. Mereka serempak menoleh ke belakang.

“Alvin..”

“Gue yang salah kok dalam hal ini, makanya gue harus tanggung jawab. Gua yang ngajak Rio tanding tadi buat bersaing ngedeketin lo. Dan sebagai laki-laki, gue harus nerima apapun hasil pertandingan.” kata Alvin. Dia menatap Rio dan Dea bergantian.

“Ya, walaupun emang harus gue akui, berat buat ngelepas lo De. Tapi disisi lain gue juga sadar, kalo cinta itu emang gak bisa dipaksain. Walaupun gue sayang banget sama lo, tapi gue gak bisa maksa lo buat sayang juga sama gue.” kata Alvin. Dia terus melanjutkan, dan tidak membiarkan seorangpun untuk memotong kata-katanya.

“Selama lo jadian sama gue, lo emang selalu ada di samping gue. Selalu berusaha untuk ada buat gue. Tapi gue tau De, hati lo gak pernah ada di samping gue. Hati lo gak pernah ada buat gue. Selama ini gue mencoba buat gak peduli dan berusaha untuk gak mau tau, tapi tetep gak akan sama. Sekeras apapun gue mencoba untuk membuat lo sayang sama gue, semakin gue sadar, kalo lo semakin jauh.” kata Alvin lagi. “Dan gue tau, selama ini hati lo cuma untuk…”

Alvin tiba-tiba meraih tangan Dea dengan tangan kanannya, dan meraih tangan Rio dengan tangan yang satunya lagi. Rio dan Dea sama-sama bingung, tapi tidak ada satupun dari mereka yang mencoba mencegah perbuatan Alvin itu. Alvin menyatukan tangan mereka dalam genggamannya, lalu tersenyum.

“Hati Dea cuma buat lo, Yo.” kata Alvin pada Rio. Rio mengalihkan pandangannya dan menatap Dea. Dea sendiri tetap menatap Alvin. Matanya berkaca-kaca.

“Mm… Maaf…” kata Dea. Suaranya bergetar hebat. Alvin memaksakan senyum.

“Bukan salah lo kok De, harusnya malah gue yang minta maaf. Gue egois, gue mentingin perasaan gue sendiri dan pura-pura gak tau kalo hati lo emang udah dimiliki sama orang lain sejak delapan bulan yang lalu…” kata Alvin.

“Tunggu. Maksud lo ‘udah dimiliki orang lain sejak delapan bulan yang lalu’ apa? Lo ngomong njelimet banget sih, pusing gue dengernya!” Rio memotong kalimat Alvin.

“Lo gak tau Yo? Harusnya gue emang gak perlu minta lo bersaing buat ngedeketin Dea. Gue juga gak perlu maksa Dea untuk milih. Karena sebenernya, Dea udah memilih sejak delapan bulann yang lalu.” kata Alvin. Rio tambah bingung.

“Maksud lo apaan sih?”

“Yo, sebenernya Dea udah milih lo sejak delapan tahun yang lalu. Sejak kalian masih kecil dulu. Sekeras apapun gue nyoba, gue gak akan pernah menang kalo bersaing sama lo. Karena gue tau, Dea udah nutup hatinya dari orang lain selain lo, Yo.” kata Alvin. Dia melepas tangan Rio dan Dea dari genggamannya, lalu menepuk pundak Rio pelan.

“Jaga Dea ya. Gue yakin lo emang orang yang tepat buat dia.” kata Alvin. Rio mengangguk, lalu tersenyum.

“Thanks.” kata Rio. Dia lalu memeluk Alvin sambil menepuk pundaknya. ‘Pelukan Persahabatan’ pastinya. Setelah melepas pelukan Rio, Alvin mulai melangkah menjauh.

“Vin.” kali ini, Dea mulai berbicara. “Kamu tau darimana kalo aku sama Rio pernah ketemu delapan bulan yang lalu?”

Alvin menghentikan langkahnya, lalu berbalik. Dia tersenyum lagi. “Dari sini.” katanya sambil menepuk dadanya sendiri. Dia berbalik lagi, lalu pergi. Meninggalkan Rio dan Dea berdua disana.

Rio dan Dea terdiam. Sampai saat mata mereka bertemu, keduanya menunduk.

Semuanya akan berubah mulai sekarang…

***

Alvin berjalan tanpa arah. Dia mencari tempat yang sepi untuk berdiam diri. Sampai akhirnya Alvin menemukan sebuah bangku di sudut taman yang tersembunyi. Dia duduk.

“Alvin!” Dari belakangnya, Alvin bisa mendengar suara Zevana. Suara beratnya terdengar khawatir. Tak lama, Alvin juga mendengar derap langkah kaki Zevana mendekat.

“Lo gapapa kan?” tanya Zevana. Alvin menggeleng. Zevana menghela nafas, lalu duduk di sebelah Alvin.

“Boong.”

“Gue gapapa Ze, beneran deh.” kata Alvin. Zevana menggeleng, lalu menatap Alvin. Matanya berkabut, mendung. Sebentar lagi pasti hujan. Hujan air mata Alvin.

“Kalo lo mau nangis, ya nangis aja. Nangis itu bisa bikin lega kok. Lagian kan cuma ada gue kan disini.” kata Zevana.

“Siapa bilang gue mau nangis? Gue beneran gapapa Ze. Gue seneng kok liat Dea seneng sama Rio. Gue bahagia kalo liat dia bahagia.” kata Alvin.

“Vin. Mungkin lo bisa boong sama orang lain, tapi lo gak bisa boong sama gue. Gue bisa liat kok dari mata lo kalo lo sakit. Gue tau Vin, gimana rasanya kalo ngeliat orang yang kita sayang ternyata malah bahagia sama orang lain.” kata Zevana. Alvin terdiam. Zevana menghela nafas lagi. Andai Alvin tau…

“Vin..”

“Emang kalo gue sakit semua bakal berubah? Kalo emang gue gak bisa ngeliat Dea sama Rio, apa itu semua ngerubah keadaan? Enggak kan Ze?” kata Alvin.

Kali ini Zevana yang terdiam. Dia menatap Alvin lama. Tapi gue gak nyangka kalo lo bakal sesakit ini cuma karena kehilangan Dea, Vin..

“Kalo emang lo gak bisa ngerubah keadaan, lo gak boleh ngebiarin keadaan ngubah lo.” kata Zevana.

Alvin lagi-lagi terdiam. Memang benar kata Zevana, dia gak boleh ngebiarin keadaan ngubah dia. Harusnya malah dia yang ngubah keadaan.

“Ingin ku mengejar seribu bayangmu.. Namun apa daya tangan tak sampai.. Memang benar apa kata pepatah.. Kalau jodoh gak lari kemana..” Zevana bersenandung pelan. Alvin menatapnya sambil tersenyum.

“Haha, lo nyindir gue ya?” katanya.

“Yee.. Siapa juga. Gue cuma mau ngasih tau lo, kalo emang jodoh ya pasti lo bakal bersatu lagi sama Dea. Atau… Mungkin aja jodoh lo lebih baik dari Dea. Gak ada yang tau kan? Pacar kita di masa-masa sekarang kan belum tentu jodoh kita nanti.” kata Zevana. Senyum Alvin memudar, lalu dia menatap kosong ke depannya.

“Elahh.. Kok lo jadi mellow lagi sih? Cheer up dong! Hidup lo belom berenti cuma karena hal kaya gini. Masih banyak cewe yang suka sama lo kali.” kata Zevana sambil meninju pundak Alvin pelan. Alvin hanya tersenyum tipis, tapi tidak mengalihkan pandangannya.

Zevana bangkit. Mungkin dia memang harus memberi Alvin waktu untuk sendiri. Tapi, tangan Alvin tiba-tiba menahannya.

“Thanks.” katanya. Sepertinya Alvin mencoba untuk tersenyum tulus, tapi yang terlihat oleh Zevana malah senyum getir. Miris. Senyum orang yang mencoba menyembunyikan luka. Zevana menghela nafas, mengangguk, lalu pergi. Sekali lagi dia melihat Alvin. Matanya masih tersapu kabut.

Alvin, ijinin gue membawa matahari cerah untuk mengganti kabut di mata lo itu..

****

“Rio.”

Rio mengangkat wajahnya, lalu melihat seseorang yang sedang berdiri tegak di hadapannya. Wajah dengan dagu lancip, tapi kali ini tidak dengan senyum manis yang biasa menghiasi wajahnya. Rio menghela nafas. Ify.

“Rio.” ulang Ify lagi.

“Ada apa?”

“Gue liat waktu lo sama seorang cewek di lapangan tadi. Siapa itu namanya? Dea ya?”
tanya Ify. “Lo jadian sama dia? Beneran?” tanyanya lagi. Rio menunduk.

“Menurut lo?”

“Apa itu artinya… Lo nolak gue?” tanya Ify lagi. Dia menggigit bibir.

“Sorry Fy, tapi gue… Gue gak bisa..” Rio mengacak-acak rambutnya bingung. Rio tau, Ify tidak terbiasa kalah. Dan karena kali ini Ify harus kalah, pasti rasanya sakit sekali. “Maaf.”

Ify terdiam lagi sambil menatap Rio dalam. Maaf? Apa maaf bisa menyembuhkan luka heh? Enggak! Sebanyak apapun kamu minta maaf, luka ini gak akan pernah hilang..

“Oh. Gapapa kok. Gue ngerti. Gue mau ngasihin ini sama lo, mudah-mudahan lo dateng.” kata Ify. Dia menyodorkan satu lembar undangan untuk Rio. Rio menatap undangan itu bingung, lalu mengangguk. Setelah itu, Ify pergi.

UNDANGAN

Ify’s Fourteen Birthday Party
Tonight @ 7 a.m.
Place: Rainbow Palace

 

P.S: Semua orang yang diundang diharapkan membawa pasangannya masing-masing.
***

Rio sudah siap dengan setelannya, dan sekarang sedang menunggu di depan hotel tempat Dea menginap. Rio tidak memakai jas atau setelan formal yang lain, dia hanya memakai kemeja hijau muda polos. Celananya pun celana jeans biasa, bukan celana katun yang biasa dipakai di acara formal. Lagian, apa Rio terlihat seperti orang yang biasa memakai pakaian seperti itu?

 

 
Rio berkali-kali menelepon Dea dengan handphone-nya,yang selalu dijawab Dea dengan kata “sebentar”. Teh botol yang tadi Rio beli sudah habis lebih dari setengahnya.

Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Dea keluar juga. Rio terperangah melihat setelan Dea yang beda dari biasanya. Tanpa mereka sadari, warna baju yang mereka kenakan berwarna senada. Dea memakai gaun hijau muda sederhana yang warnanya hampir mirip dengan baju Rio, lalu ditutup dengan cardigan warna hijau yang lebih tua. Tak lupa Dea juga menyematkan bando warna senada di kepalanya yang membuatnya tambah manis.

 

“Maaf ya nunggu kelamaan..” kata Dea pelan, membuat khayalan indah Rio seketika tertiup angin. Rio tersenyum tipis.

“Gapapa kok.”

“Ya udah, ayo! Udah hampir jam 7 malem nih. Mudah-mudahan aja nyampe sana jam tujuh pas.” kata Dea sambil tersenyum. Rio segera bangkit, lalu menarik tangan Dea menuju mobil yang ia pinjam dari kakaknya untuk malem ini.

Sampai di depan mobil, Dea terdiam. “Ini mobil kamu Yo?” tanyanya heran.

“Ya bukanlah. Ini punya Kak Marcel, aku pinjem sebentar untuk malem ini doang.” kata Rio. “Ah, udah deh gak usah diomongin. Ayo cepetan De!” kata Rio lagi sambil membukakan pintu mobilnya untuk Dea.

“Silahkan masuk Tuan Putri..” kata Rio pelan sambil membungkuk sedikit, dan bibirnya mengulum senyum. Dea tertawa kecil, lalu balas membungkuk. Tak lama, dia masuk. Rio menutup lagi pintu mobilnya sambil senyum-senyum sendiri.

Tak lama, mobil melaju menuju Rainbow Palace.

 
***

Tok, tok, tok. Alvin menggedor pintu kamar seseorang dengan heboh. Dia berdecak kesal, lalu menatap jam tangan dan pintu di depannya bergantian. Kebetulan, semua Tim Basket SMP Bintang juga diundang ke acara ulang tahun Ify. Dan semuanya sudah pergi sejak jam setengah tujuh malam tadi dengan pasangan masing-masing.

“Iya iya bentar, gak sabaran amat sih?! Gue lagi nyari handphone gue nih.. Pake ilang lagi, ah!” terdengar suara seorang gadis dari dalam. Alvin berdecak kesal lagi.

“Udah deh hapenya ditinggal aja! Udah jam tujuh lewat ini!” teriak Alvin lagi. Bersamaan dengan itu, pintu kamar itu terbuka.

“Sabar dikit napa sih?! Lagian cuma acara ulang tahun doang. Ribet amat sih lo.” kata gadis itu. Alvin terdiam, terpesona dengan kecantikan gadis yang ada didepannya sekarang. Gadis itu menatap Alvin heran, lalu menggoyangkan tangannya di depan muka Alvin.

“Woy.. Alvin? Lo kenapa? Tadi nyuruh gue cepet-cepet, sekarang malah bengong. Ayo buruan!” kata gadis itu lagi.

“Eh, iya iya.” Alvin tersadar, lalu menarik tangan gadis itu untuk menyetop taksi.

Alvin tersenyum. Sepertinya mengajak gadis itu malam ini memang bukan ide yang buruk.

***

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s